Sedikit tentang Cicak vs Buaya
November 8, 2009
Mengomentari sedikit tentang Cicak vs Buaya, memang sedikit membingungkan. Terutama bagi kita yang tidak asing dengan teori konspirasi. Semua orang boleh punya teori masing-masing, asal kita tidak menghakimi terlebih dahulu.
Merunut sejarah, amatlah pantas keadaan saat ini, dimana banyak sekali massa yang lebih cenderung memihak “cicak” dari pada “buaya”. Hal tersebut mungkin juga terkait tindak-tanduk keseharian buaya yang gemar “memangsa”. Buaya telah mempunyai track record yang tidak bisa dibilang bagus di kenangan mayoritas massa tersebut. bahkan beberapa tahun yang lalu malah bersaing ketat dengan “wakil rakyat yang terhormat” di jajaran terdepan instansi terkorup di indonesia menurut suatu LSM di bidang anti korupsi. Dan tentunya kepala divisi humas buaya sangatlah marah dengan keadaan tersebut, bahkan dalam pers conference menghujat massa yang benar atau salah seakan-akan selalu memposisikan instansinya dalam kondisi salah.
Cicak bukannya tanpa cela, sempat dikabarkan memilih-milih mangsa. Tentunya nyamuk yang gemuk cenderung dilepaskan dan nyamuk yang kurus yang banyak ditangkapi. Bahkan saat ini ketua cicak yang telah non-aktif dikabarkan menjadi tersangka pembunuhan. Keadaan tersebut ditambah lagi dua wakil ketua cicak ditahan buaya atas sangkaan penyalahgunaan wewenang.
Cicak vs Buaya, kita harus membela siapa? Tanyakan pada hati kecil anda siapa yang lebih anda percaya. Di atas itu semua yakinkan dulu hati anda bahwa siapapun yang kalah, yang menang tetap Pemberantasan Korupsi!!!
Menemukan kembali semangat menulis
Oktober 17, 2009
Menulis adalah tentang mengungkapkan perasaan dalam hati, mengubahnya menjadi tulisan dengan pilihan diksi yang tepat agar perasaan tersebut terdeskripsikan senyata mungkin. Kita mungkin tidak menyadari apa yang menjadi halangan bagi kita untuk tidak menulis, apakah hal kebiasaan, apakah soal waktu, apakah hari-hari kita tidak menarik ataupun susah memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan.
Begitu juga dengan saya, banyak hal yang hendak saya tulis. Akan tetapi selalu saja ada alasan untuk menunda menuangkannya dalam rangkaian paragraf. Bisa jadi karena memang hal tersebut konsumsi pribadi ataupun digelar di depan umum pun gak akan laku karena blog sepi pengunjung. Tapi sungguh bukan karena itu saya tidak menulis.
Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan proyek pengadaan kaos untuk kegiatan kampus yang sangat besar (total kaos yang dibuat 2200 pcs). Waktu banyak terbuang di jalan, padatnya aktivitas membuat saya harus menaiki sepeda motor kesayangan menyusuri jalan-jalan antara bintaro utan kayu. Dan hal ini diperparah dengan kepindahan tempat belajar (kampus) ke daerah purnawarman. Sehingga mengakibatkan perjalanan semakin panjang. Akan tetapi itulah amanah, tanggung jawab bahasa lainnya.
Terus terang saja, beraktivitas layaknya enterpreneur, membuat desain visual, dan mengelola kegiatan adalah hobi saya. Seperti tulisan dalam blog Pandji Pragiwaksono yang terbaru, mempunyai hobi sebagai pekerjaan tetap adalah suatu kenikmatan. Walau saya lakukan tidak sejauh itu, sensasi kenikmatan itu terasa. Bukan dari keuntungan yang dihasilkan (yang ternyata jauh dari yang diharapkan, alias hampir2 merugi) akan tetapi pembuktian kepada diri sendiri dan khalayak yang lebih membuat hati bangga.
Kesibukan semacam ini yang membuat hobi lainnya terabaikan dengan suksesnya. Oleh karena itu tulisan kali ini menjadi titik tolak (yang kesekian kalinya) untuk berkarya lebih baik lagi. Bukan karena ingin diapresiasi, akan tetapi lebih kepada pembuktian diri bahwa saya masih bisa! Ayo ngeblog lagi!!
Potret Kebersahajaan
Juli 15, 2009
Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi sebuah toko buku terkenal untuk mencari bahan kuliah. Sembari memilih-milih buku, saya melihat sebuah keluarga juga sedang berada di toko buku tersebut. keluarga itu terdiri dari ayah, ibu dan tiga orang anaknya yang masih kecil. Sembari menunggu ayahnya memilih buku, sang ibu mengajak ketiga anaknya untuk melihat DVD permainan anak-anak. Saya terkejut sekali melihat kegembiraan anak-anak tersebut terutama anak yang paling kecil yang baru berumur kurang dari dua tahun. Dia dapat benar-benar tertawa disaat tayangan di monitor menunjukkan hal hal yang lucu. Tipikal anak cerdas mungkin, demikian pikir saya.
Akhirnya saya tertarik untuk membeli salah satu DVD untuk anak saya di rumah. Selang beberapa waktu saya tidak mendapatkan buku yang saya cari dan ingin membayar DVD serta buku lain yang saya beli. Saya kebetulan bertemu kembali dengan keluarga tersebut di kasir. Keluarga tersebut tidak berpakaian mewah, akan tetapi sang ayah membeli banyak buku, begitu banyaknya sehingga harus sebagian disimpan dalam tas punggung yang dibawanya. Saat pandangan saya lebih menyelidik, maka saya menemukan sebuah lambang BUMN terkenal di negeri ini tercetak pada topi sang ayah. Keluarga tersebut telah menggugah saya akan arti substance over form. Keluarga tersebut memilih membeli buku daripada harus mengeluarkan uang berlebih untuk membeli pakaian mode terbaru dan fashion yang lain. Jika ditafsirkan secara bebas berarti mereka menganggap ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada penampilan. Sungguh filosofi yang jarang ditemukan dalam jaman metropolitan saat ini.
Masalah Anak Jaman Sekarang
Juni 17, 2009
Seperti ini kah masalah anak-anak jaman sekarang?


(foto diambil di sebuah toko buku terkenal di indonesia)
Balada Kolong Semanggi
Juni 13, 2009
Bagi pengendara motor yang pernah melalui jalan sudirman pasti tidak asing dengan kolong jembatan semanggi di depan plaza semanggi. Karena hanya jika kita masuk jalur lambat saja, kita dapat melewati jalan tersebut. Sebelumnya saya perhatikan jalan tersebut berkali-kali rusak dan berkali-kali itu pula diperbaiki dengan diaspal kembali. Tetapi naasnya setiap kali hujan, aspal yang telah dibenamkan ke jalan tersebut terkelupas dan hanyut bersama air. Fenomena ini yang membuat kita berpikir, mengapa hal tersebut terjadi berulang-ulang, (mungkin sudah dari jaman orde lama yah?) Bukankah menurut peribahasa keledai tidak terjatuh dua kali di lobang yang sama? Bukan bermaksud menyamakan manusia dengan keledai, akan tetapi saya hanya tidak habis pikir jika ada orang yang tidak mau belajar dari pengalaman.
Menurut analisa saya (IMHO), gorong2 di sekitar jalan tersebut terlalu kecil dan tidak mampu menampung debit air hujan yang terlalu banyak. Sehingga air terus menerus menggenang, bahkan sampai setengah hari. Setelah bertahun-tahun terjadi demikian, kini tampaknya pengelola jalan tersebut lebih kreatif, yaitu dengan mengganti aspal dengan jalan yang terbuat dari beton. Hal ini mungkin berhasil meningkatkan ketahanan jalan terhadap air hujan. Tapi apakah air tidak akan menggenang lagi? Kita lihat saja nanti.
Kasus Ibu Prita dan J-Dorama
Juni 4, 2009
Melihat perkembangan kasus ini saya jadi tertarik untuk mencari dan membaca berita selengkapnya mulai dari asal muasal kasus ini. Mulai dari bagaimana Ibu Prita mengungkapkan kekesalannya atas ketidakbecusan RS bertaraf internasional dalam merawat (melayani) pasiennya sampai ke tuntutan yang dilayangkan RS Omni atas pencemaran nama baik dan fitnah yang dituduhkan pada ibu prita. Dengan asumsi kasus ini seperti sebagaimana ditutrkan ibu Prita dalam emailnya saya pribadi berpendapat adanya salah diagnosa yang berujung malpraktek pada kondisi ibu Prita pada saat itu.
hal ini mengingatkan saya pada J-Dorama, drama jepang yang berjudul “taiyo wa shizumanai” atau terjemahan inggrisnya “sunshine forever” atau “sun will never set”. Dalam dorama ini dikisahkan bahwa ibu sang tokoh utama meninggal di rumah sakit setelah beberap jam dilarikan kesana akibat sakit pada perutnya. Diagnosa dokter pada waktu itu adalah korban meninggal karena kelelahan. Adapun tokoh utama disini tidak mempercayai keterangan dari rumah sakit tersebut karena dalam proses krematorium ibunya ditemukan pisau bedah yang kemungkinan sebelumnya berada pada perut sang ibu. Hal ini yang memberanikan anak yang duduk di sekolah menengah atas itu melakukan tuntutan hukum kepada pihak RS atas kematian ibunya.
Ternyata usut punya usut, pihak RS melakukan kesalahan diagnosa, yaitu salah membaca rekam medik pasien. Ibu tersebut yang seharusnya cuma sakit maag. Akan tetapi rekam mediknya tertukar dengan pasien lain yang ternyata didiagnosa menderita usus buntu akut. Karena dalam proses operasi dokter tidak menemukan penyakit pada usus buntunya. Akhirnya tim dokter tersebut panik dan segera menutup jahitan di perut sang ibu dengan meninggalkan pisau bedah disana.
Kasus ini di peradilan akhirnya dimenangkan oleh sang anak, dan pihak RS mengakui bahwa mereka melakukan kesalahan diagnosa. Akan tetapi pihak RS tidak menuntut balik si pelapor, nah disini bedanya.
Semoga nanti kasus ini dapat diselesaikan dengan cara baik, dan happy ending untuk bu prita sekeluarga. Amiin
Pricing yang aneh dari Buavita
Mei 24, 2009

Salam super,
Blog ini ditulis di sela-sela kejenuhan persiapan belajar untuk ujian akhir semester tujuh ini… (belom belajar aja dah jenuh, hahaha)
Suatu ketika saya membeli snack ke mini market di sebelah rumah. Sesaat pandangan saya tertuju pada minuman sari buah berlabel buavita, label yang baru-baru ini menjadi perbincangan karena diakuisisi indofood dari ultra jaya, menggelitik saya untuk berpikir lebih lanjut.. Ada sesuatu yang aneh…
1. Untuk kemasan mini 250ml dihargai Rp3.600
2. Sedangkan kemasan family pack berisi 1000ml diberi harga Rp18.500
hehehe… Kira-kira apa yang membuat perbedaan harga tersebut begitu mencolok yah?
Rp3.600 x 4 = Rp14.400
18.500-14.400=4.100
Jadi kalo beli ukuran mini pack 250 ml dengan harga family pack bisa dapat 5 buah which is 1250 ml. Masih ada kembalian lagi 500 rupiah….
Derby Della Madonnina (bagian satu)
Februari 15, 2009
Derby dalam sepakbola dapat diartikan sebagai pertemuan antara dua klub yang berasal dari daerah yang sama. jadi bukannya penyanyi remaja yang temennya sherina ituh. Sedang de la madonina adalah bahasa italia yang kurang lebih berarti madonna kecil atau little madonna, dilambangkan oleh sebuah patung virgin mary yang terdapat di jantung kota Milan.
Jadi jika dirangkai kurang lebih berarti pertemuan antara dua klub sepakbola sekota di Milan yang memperebutkan prestise yang terbaik di Milan. Nah julukan ini disematkan pada pertemuan antara Inter Milan dan AC Milan, yang sejak tahun 1908 hanya absen selama 2 tahun karena Milan terdegradasi ke Serie B.
Selama Serie A berlangsung derby antara dua klub ini terselenggara 171 kali dengan 61 kali dimenangkan Internazionale, 58 kali dimenangkan AC Milan dan 52 sisanya adalah draw, untuk lebih lengkapnya baca disini.
Nah di Indonesia laga ini dapat disaksikan nanti malam sekitar pukul 2 malam WIB. Jadi bagi anda yang berniat untuk menonton jangan lupa pasang wekernya. Saya sendiri berniat untuk nonton juga nanti malam, semoga tidak kebablas tidur sampai pagi.
Reportase akan saya ulas di tulisan bagian selanjutnya. Selamat Menonton.
Kuliah lagi di Jakarta
Februari 3, 2009
Sejak 19 januari lalu saya masuk kuliah lagi di kampus STAN bintaro, sebenernya sih alamat lamanya adalah jalan ceger raya jurangmangu, pd aren tangerang. Akan tetapi mungkin agar keliatan lebih bonafit dan mudah aksesnya akhirnya jalan masuknya dipindahkan ke Bintaro yang notabene adalah kompleks perumahan elite. Jika anda berkunjung ke kampus STAN melalui jalan ceger, maka akan anda temui gedung P yang merupakan sekretariat menghadap ke anda, lengkap dengan taman dan tiang benderanya juga. Hal ini bukan isapan jempol belaka, dosen sendiri yang menceritakannya di depan kelas, dia menceritakan bagaimana susahnya membujuk pengembang perumahan untuk dapat mengijinkan kampus memindahkan alamatnya ke bintaro.
Kesan pertama saya masuk kampus ini tidak ubahnya dengan bertemu teman lama, ada perasaan senang, malu-malu, kaget, bangga (karena sudah tidak ada lagi kambing dan kerbau yang berkeliaran di sekitar kampus, hahaha) dan berbagai macam perasaan lainnya. Well, setidaknya kampus ini telah berjasa mendidik ahli-ahli dalam bidang keuangan yang sekarang diperkerjakan di departemen keuangan dan instansi terkait lainnya. Saya tidak bilang termasuk saya lho, jangan salah sangka, hehehe. Akan tetapi ternyata menikmati nostalgia tidak ada salahnya, seperti tertegunnya saya melihat tempat dimana dulu saya dan teman-teman seangkatan beraktivitas ternyata masih ada dan digunakan pula oleh adik kelas kami sekarang. Sungguh mengingat kenangan di masa lalu, yang walau baru 4 tahun berlalu akan tetapi sudah terasa lama, menyenangkan.
Sesuatu yang membuat saya agak kaget dan sekaligus kesal adalah melihat kenyataan bahwa pendidikan bukan merupakan prioritas utama bagi pengambil keputusan di kampus ini. Hal ini terbukti dari sarana belajar mengajar yang kami pakai masih kurang layak. Ruang kelas yang nyaman, dan meja serta kursi belajar yang bersih serta terlihat terawat tidak kami temui. Sebelumnya saya berpikir bahwa kesabaran kami sewaktu kuliah D3 telah menemui hasilnya, akan tetapi sepertinnya kesabaran itu harus berlanjut saat ini. Kampus STAN tidak seperti kampus lainnya yang notabene kampus ini berusaha menyenangkan mahasiswanya dengan meminjami buku dan literatur yang digunakan dalam proses belajar mengajar di kampus. Akan tetapi kemampuan literatur tersebut untuk menyesuaikan dengan jaman tidak diupdate. Sehingga banyak diantara literatur yang penting tersebut ditemukan dalam kondisi yang tidak terawat dan terlambat dua edisi dari edisi yang terbaru.
Bukan hanya itu, salah seorang dosen bercerita bahwa sekarang ini memang sudah ada perbaikan di kampus ini. salah satunya adalah dosen tersebut dihubungi untuk mengajar hari pertama pada 3 hari sebelum kuliah pertama dimulai. Dahulu biasanya dosen tahu dari mahasiswanya sendiri bahwa dia mendapat kesempatan mengajar di kampus. Jadi otomatis hari pertama masuk kuliah dosen tidak dapat mengajar. Dan hal ini membuang sekali kesempatan untuk mendapatkan pengajaran. Sungguh terlalu.
Cerita tentang perkuliahan bukan hanya seputar kampus akan tetapi juga berkenaan dengan cerita seputar bagaimana mencapai kampus. Jika kuliah dimulai jam 8, maka saya yang notabene sekarang berdomisili di daerah Utan Kayu harus berangkat jam 6.00 paling telat jam 6.30 agar tidak terlambat memasuki kelas. Jam keberangkatan tersebut sudah dihitung dengan beban kontinjensi yang akan terjadi di jalan seperti, adanya tuntutan ganti rugi dari pengguna jalan yang saya tabrak atau terjebak oleh kemacetan. Kenapa kok seakan-akan susah ya, padahal mungkin kalian yang telah lama tinggal di Jakarta sudah menganggap hal tersebut biasa. Well, perlu saya ingatkan kembali bahwasanya saya adalah termasuk gelombang urbanisasi, pindahnya orang dari desa ke kota. Jadi maklum sajalah kalo terjadi sedikit culture shock. Jalan yang biasanya lengang di tempat tinggal saya dulu berubah menjadi parkiran kendaraan yang banyak asapnya. Kenapa saya sebut tempat parker? Karena begitulah keadaannya jika macet. Hehehehe.
Tapi setelah hampir 2 minggu menjalani bolak-balik Utan Kayu – Bintaro, yang sebenarnya hanya berjarak tempuh 25 Km, maka semakin terbiasa pulalah saya untuk menyelami lautan kendaraan di jalan raya Jakarta. Alhasil jika beruntung mungkin waktu tempuh bias diperpendek menjadi 1 jam 10 menit. Well untuk lebih jelasnya mungkin kelak akan saya buatkan tulisan tersendiri tentang jalan raya beserta manner di jalan raya.