Potret Kebersahajaan
Juli 15, 2009
Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi sebuah toko buku terkenal untuk mencari bahan kuliah. Sembari memilih-milih buku, saya melihat sebuah keluarga juga sedang berada di toko buku tersebut. keluarga itu terdiri dari ayah, ibu dan tiga orang anaknya yang masih kecil. Sembari menunggu ayahnya memilih buku, sang ibu mengajak ketiga anaknya untuk melihat DVD permainan anak-anak. Saya terkejut sekali melihat kegembiraan anak-anak tersebut terutama anak yang paling kecil yang baru berumur kurang dari dua tahun. Dia dapat benar-benar tertawa disaat tayangan di monitor menunjukkan hal hal yang lucu. Tipikal anak cerdas mungkin, demikian pikir saya.
Akhirnya saya tertarik untuk membeli salah satu DVD untuk anak saya di rumah. Selang beberapa waktu saya tidak mendapatkan buku yang saya cari dan ingin membayar DVD serta buku lain yang saya beli. Saya kebetulan bertemu kembali dengan keluarga tersebut di kasir. Keluarga tersebut tidak berpakaian mewah, akan tetapi sang ayah membeli banyak buku, begitu banyaknya sehingga harus sebagian disimpan dalam tas punggung yang dibawanya. Saat pandangan saya lebih menyelidik, maka saya menemukan sebuah lambang BUMN terkenal di negeri ini tercetak pada topi sang ayah. Keluarga tersebut telah menggugah saya akan arti substance over form. Keluarga tersebut memilih membeli buku daripada harus mengeluarkan uang berlebih untuk membeli pakaian mode terbaru dan fashion yang lain. Jika ditafsirkan secara bebas berarti mereka menganggap ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada penampilan. Sungguh filosofi yang jarang ditemukan dalam jaman metropolitan saat ini.
Antri, indikator kemajuan peradaban manusia
Oktober 17, 2008
Beberapa hari yang lalu saya bersama istri sepulang dari kantor, sekitar jam 5 sore, membeli perlengkapan rumah dan logistik di sebuah supermarket kecil, masih bertempat diseputar kota kendari. Setelah memilih barang yang akan dibeli alhasil saya mengantri untuk membayar di kasir. Karena kelupaan sesuatu maka belanjaan dibawa oleh istri saya dan saya pergi mengambil barang yang tertinggal. kemudian tidak lama setelah saya pergi, ada orang sekonyong-koyong melewati istri saya yang tengah menurunkan belanjaan dan langsung menuju kasir. Istri saya dengan terheran-heran melihat dan memperingatkan orang itu. Akan tetapi entah karena bahasa indonesia yang kami gunakan tidak dimengerti oleh orang tersebut ataukah ada maksud lain yang kami tidak ketahui, dia tetap saja bergeming. Beruntung sang kasir memahami dan mengetahui maksud kami yang memang telah mengantri terlebih dahulu. Dan akhirnya dia lebih memilih untuk melayani kami daripada orang yang menyerobot tersebut.
Hal seperti ini tidak hanya satu dua kali terjadi melainkan hampir setiap kali kami mengantri sesuatu pasti ada kejadian seperti ini. Pelaku dari penyerobotan tersebut bukan hanya satu dua orang, melainkan banyak orang. Saya mengerti akan kondisi darurat, akan tetapi yang saya tidak mengerti adalah komunikasi yang sangat parah di sini. Kalau saja kebutuhan mereka (refer to: si penyerobot) lebih mendesak, maka mungkin saya pribadi dapat mengerti dan mengikhlaskan jatah saya diambil oleh mereka.
Melihat kehidupan kota secara keseluruhan saya jadi menyimpulkan apakah kemampuan untuk tertib antri adalah indikator kemajuan suatu peradaban. Mengapa saya menyimpulkan seperti itu, karena orang maju dan beradab menginginkan suatu kedamaian dan kesejahteraan hidup. Hal tersebut tidak akan pernah tercapai secara adil dan merata jika terjadi banyak konflik. Dan terkadang terus-menerus mengalah juga bukan solusi yang baik dalam pembelajaran untuk mempertahankan hak kita. Jadi kesimpulannya hargai hak orang lain serta komunikasikan pendapat dengan baik, InsyaAllah bangsa ini dapat menuju peradaban yang lebih baik. Amin.
Birthday Party
Oktober 14, 2008
Kemarin malam di salah satu resto jepang yang ada di kendari diadakan birthday party, saya dan istri turut diundang juga.
Disebelah ini foto kami semua minus saya yang lagi ngambil gambar dan Amna yang berulang tahun yang lagi bayar makanan. Dari kiri ke kanan ada Siska, Nabila, Mamanya Nabila, EKy, Pak Koko, Eda, Ficky.
Setelah nemenin papa dan mamanya makan Nabila yang digendong tante siska bobo terus sepanjang kita berada di Mall. Walau suasana Mall sedang bising, karena kebetulan food courtnya bersebelahan dengan arena bermain, dia tetap saja bobo dengan pulasnya seakan tidak terganggu oleh kebisingan anak2 yang bermain di situ.
Oiya ini foto satu lagi yang menampilkan pihak yang mengundang, saya bakalan kena getok kalo gak nampilin, udah ditraktir eh malah kagak ditampilkan, hahaha. Yang berulang tahun berada di paling kanan foto ini. Foto ini tak lupa juga diwarnai aksi narsis istri saya (ehm. maaf), mamanya Nabila yang walau sudah beranak satu tapi tetep trendy dan cantik (biar gak digetok sampai di rumah).
Acara tersebut berakhir jam 9 dengan penutup belanja tentunya, suatu hal yang entah mengapa disukai oleh kaum wanita. Padahal kan menghabiskan banyak sumber daya, iya gak sih? ha ha ha
At last, happy birthday friends, wish u all the best.
satu gambar sejuta makna
Oktober 9, 2008
Opini Wajar Tanpa Pengecualian
April 21, 2008
Kalimat ini sering dipakai auditor untuk memberikan pendapat bahwa laporan keuangan yang mereka audit sudah baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Jika kita telaah lebih lanjut, penggunaan istilah ini adalah sangat filosofis. Kenapa menggunakan kata wajar bukannya benar atau betul?
Wajar adalah sesuatu yang layak atau sesuai dengan keadaannya. Suatu nilai tertinggi yang dapat dicapai dalam karya manusia. Karena menurut saya kebenaran itu adalah mutlak milik Tuhan dan kita hanya bisa mengutip dari ayat-ayat Nya, maka nilai tertinggi yang bisa dicapai dari hasil pemikiran manusia adalah wajar. Penilaian ini adalah kesimpulan obyektif manusia yang lain tentang sesuatu. Jadi yang menilai wajar atau tidaknya kita adalah orang lain.
Seperti kita dalam menilai perbuatan seseorang, semisal A’a Gym memutuskan untuk poligami. Alasan saya menganggap perbuatan yang dilakukan A’a Gym adalah hal yang wajar adalah dalam tataran sosial kita mengetahui bahwa pada jaman kerajaan sebelum kita lahir adalah wajar beristri lebih dari satu jadi budaya kita sudah mengatur yang demikian. Alasan kedua A’a adalah orang kaya yang bisa menghidupi banyak keluarga, jadi secara finansial adalah wajar A’a mempunyai istri dan anak lebih dari satu. Alasan yang lain adalah populasi wanita dan lelaki adalah tidak seimbang, di kampung saya saja populasi lelaki dan wanita sudah 1:3, bayangkan jika satu lelaki hanya menikah dengan 1 wanita, maka akan ada 2/3 wanita yang tidak menikah.
Jika menaati agama dengan baik hal ini akan berakibat kesengsaraan bagi 2/3 dari populasi wanita. Agama saya Islam tidak memperbolehkan seks bebas, dan saya rasa semua agama juga mempunyai ajaran itu. Secara fisik dan psikologis saya kira tidak baik bagi seseorang untuk tidak menikah atau membujang untuk selamanya. Memang hal ini butuh penjelasan lebih lanjut dari pakar yang kompeten.
Sayangnya sekarang ini kita menilai sering berdasarkan perasaan, bukan logika. Cantiknya istri kedua A’a Gym menjadikan kita berpikiran bahwa A’a telah ”tergoda”. Media-media terus memojokkan A’a dengan gosip-gosipnya, padahal apa yang dilakukan A’a tidak sedikitpun melukai mereka. Kita tidak menyoroti apakah A’a sudah bisa berlaku adil, apakah mereka akhirnya bahagia, apakah anak-anak dari istri kedua telah mendapatkan figur ayah yang baik, apakah istri pertama telah bersyukur karena adanya istri kedua meringankan tugasnya.
Kalau kita menilai berdasarkan logika maka akan kita akan dapat memberikan opini kepada A’a bahwa perbuatan yang A’a lakukan adalah wajar tanpa pengecualian. Karena syarat dan ketentuannya telah dia patuhi. Akan tetapi langkah A’a ini tidak dapat serta merta dilakukan oleh semua orang. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipatuhi, dan jika tidak maka opini bisa berupa menjadi wajar dengan pengecualian maupun disclaimer.
Kalo orang lain yang melakukan langkah tersebut mungkin malah akan adverse, atau negative opinion atau dengan kata lain terjadi penyimpangan dalam hal yang material mengenai hal yang disajikan. Karena orang tersebut tidak memenuhi kriteria seperti A’a. Istri mereka pasti akan sangat setuju dengan opini ini, sehingga ini menjauhkan mereka dari perbuatan yang dianjurkan agama. No offense!
My Sweet Nabila, finally…
Maret 11, 2008

Hari Jumat tanggal 7 Maret 2008 mungkin adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Setelah menunggu 9 bulan 9 hari akhirnya Alhamdulillah anak yang ditunggu lahir juga. Bayi mungil yang manis itu kami beri nama Nabila yang artinya cerdas. Semoga kelak dia bisa menjadi anak yang cerdas, sholihah serta dapat berguna bagi nusa dan bangsa.
Nabila lahir dengan bobot yang tidak begitu besar 2,9 Kgs, dan panjang lahir 47 Cm. Dengan postur bayi yang seperti itu istri seperti dimudahkan dalam proses persalinan, saya tidak dapat membayangkan kalau ternyata bobotnya lebih besar dari itu. Persalinannya berlangsung normal dan cukup mendebarkan. Saya yang ikut di dalam ruangan persalinan sampai harus berkali-kali menahan nafas ketika istri berusaha keras untuk mengejan. Benar-benar perjuangan yang luar biasa yang dilakukan seorang ibu, kalo udah gini bikin kita nyesel dulu waktu kecil sering nakal dan ngelawan sama ibu. Persalinan berlangsung cukup lama sekitar 50-60 Menit setelah pembukaannya lengkap (pembukaan 10 kata dokter)
Kronologisnya sebagai berikut:
6 Maret 2008, 16:54 – Istri saya sms, “mas cepet pulang dong..perutku mules-mules nih!”. Trus saya bales “ntar ya dek, abis ngeprint ni surat aku segera pulang. jam pulang kantorku jam 17:00.
6 Maret 2008, 17:12 – Sesampainya di rumah, istri sudah tidak sakit lagi. Katanya sakitnya datang-pergi.
6 Maret 2008, 18:30 – Kontraksi semakin cepat, hampir tiap 7 menit sekali terjadi kontraksi. Akhirnya istri telpon Dokter yang merawat selama masa kehamilan. Oleh dokter disarankan pergi ke kliniknya untuk diperiksa keadaan kandungan.
6 Maret 2008, 19:30 – Setelah menunggu kurang lebih 1/2 jam maka istri saya diperiksa juga oleh Dokter, dokter menjelaskan bahwa memang sudah terjadi pembukaan tetapi belum pembukaan 1, jadi masih seujung kuku atau kurang dari 1 Cm. Oleh dokter disarankan istirahat di rumah, sambil nonton tivi atau makan camilan. Dari raut muka istri saya paham jangankan untuk makan camilan, untuk sekedar berbicara dengan saya saja dia hampir tidak sanggup.
6 Maret 2008, 20:47 – Kami sampai dirumah, ternyata istri memilih mengikuti saran dokter dengan menunggu di rumah saja. Akan tetapi istri tidak dapat bertahan lama dengan saran tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa istri ke rumah sakit. Toh sudah pembukaan pikir saya, berarti sudah hampir waktunya.
6 Maret 2008, 20:51 – Saya mencoba menghubungi dua armada taksi yang ada di kota kami tinggal, dan jawabannya sama tidak ada taksi yang available, dikarenakan banyaknya taksi yang tidak mendapatkan BBM pada malam ini. Akhirnya dengan persetujuan istri kami berangkat juga ke Rumah Sakit dengan menggunakan sepeda motor yang sering saya pergunakan ke kantor sehari-hari. Jarak antara rumah dan rumah sakit tidaklah jauh, hanya sekitar 3 Km. Hanya saja karena istri mengeluh sakit maka saya juga tidak berani tancap gas. Perjalanan ke RS memakan waktu hampir 7 menit dengan thimik-thimik.
6 Maret 2008, 21:45 – Sampai di RS, kami diinterview dulu di ruang jaga oleh suster yang ada di sana untuk keperluan administrasi. Dengan tidak sabar karena istri sudah mengeluh kesakitan dan pertanyaannya terlampau berbelit-belit saya minta kepada suster agar istri langsung bisa istirahat di kamar saja. Saya mencoba menelpon taksi kembali untuk menjemput ibu dan adik saya yang datang jauh-jauh dari malang untuk menemani saya dan istri menjalani proses kelahiran, mereka membawakan koper pakaian dan alat alat lainnya. Alhamdulillah sudah ada taksi yang jalan.
6 Maret 2008, 22:17 – Ibu dan Adik saya datang ke RS dengan membawa koper pakaian yang telah dipersiapkan.
6 Maret 2008, 23:00 – Kontraksi sudah beranjak ke tahap yang lebih menyakitkan, wajah istri sudah tampak pucat. setiap 2 menit sekali sakit itu datang, saya hanya bisa menatap simpati dan mengusap-usap kepalanya dengan sedikit berbisik “sabar ya sayang, sebentar lagi kok”. Seperti orang hilang ingatan, hanya kata itu saja yang saya ucapkan berkali-kali setiap istri menggenggam tangan saya erat.
6 Maret 2008, 23:15 – Istri meminta dipanggilkan suster, sudah tidak tahan dia dengan sakitnya. Pembukaan sudah beranjak naik ke tahap II. Tapi belum cukup untuk melahirkan, karena harus pembukaan 10 untuk dapat melahirkan dengan normal.
6 Maret 2008, 23:58 – Suster kembali dipanggil untuk memeriksa kondisi istri dan melalui dia kami tahu bahwa sudah pembukaan IV. Tapi ini belum cukup, kembali istri harus menahan sakitnya kontraksi untuk beberapa saat lagi.
7 Maret 2008, 01:22 – Saya kembali memanggil suster jaga, karena istri sudah kesakitan. Dan suster jaga memeriksa rahim istri, ternyata pembukaan sudah VIII. Suster menyarankan agar istri dirawat di ruang bersalin saja. Akan tetapi istri sudah tidak sanggup lagi berjalan. Saya minta kepada Suster untuk mengusahakan kereta dorong, malah dikasih kursi roda. Akhirnya kami menggunakan kursi roda tersebut untuk membawa istri ke kamar bersalin.
7 Maret 2008, 01:45 – Istri sudah tidak tahan terhadap sakit yang menderanya, saya mencoba untuk memberinya semangat dan dukungan. karena hanya itu yang bisa saya lakukan. Seandainya saja saya bisa menggantikan tempatnya..
7 Maret 2008, 02:03 – Dokter datang setelah dihubungi oleh suster jaga, kemudian persiapan persalinan dimulai. Saya diperbolehkan menemani istri di dalam kamar bersalin sedangkan Ibu dan Adik saya menunggu di luar. Persalinan berjalan menegangkan, karena mungkin energi istri sudah habis sewaktu menahan sakit pada waktu kontraksi jadi sewaktu mengejan dia tidak dapat berbuat maksimal. Saya ikut larut dalam kesakitan istri sambil memegang pundak dan kepalanya saya ikut menahan nafas setiap kali istri mengejan. Dibutuhkan hampir 10 kali mengejan untuk akhirnya dapat melahirkan bayi yang ada dalam kandungannya.
7 Maret 2008, 02:50 – Akhirnya bayi yang ditunggu-tunggu lahir juga, Alhamdulillah istri dapat bersabar dan memutuskan tetap untuk berusaha dan menahan kesakitannya agar persalinan dapat berjalan dengan normal. Bayi yang rencananya kami beri nama Nabila R. Widagdo itu lahir dalam keadaan sehat, tangisannya kencang bukan main. Sembari dokter melakukan jahitan pada istri, bayi dipotong plasentanya untuk kemudian ditaruhkan diatas tubuh ibunya untuk membiarkan bayi mencari sendiri puting ibunya yang disebut inisiasi dini. Saya turut memeriksa kondisi fisik anak kami, lengkap jari tangannya, jari kakinya dan kelaminnya saya pastikan bahwa sesuai prediksi sewaktu USG yaitu perempuan.
7 Maret 2008, 04:50 – Dengan dibantu kursi roda, kembali istri istirahat di kamar. Rupanya sewaktu dijahit lukanya dia agak terkilir di dekat tulang ekor, sehingga untuk dibuat duduk masih agak sakit. sampai tulisan ini dipublish istri saya masih merasakan sakit di bagian tulang ekornya. Sehingga memaksa dia untuk banyak beristirahat di ranjang.
Rasa syukur kami panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan kami kesempatan untuk menimang anak buah hati kami, pelita rumah tangga kami. Semoga kami dapat menjadi orangtua yang baik bagi Nabila, sehingga dapat membimbingnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin
Gw ngidam….. Oh No…
Desember 11, 2007
Siang ini gw buka email, salah satu email yang ada di mailbox gw ada artikel dari situs kapanlagi dotcom, link artikel itu dikirim ma adik gw -sagita, judulnya “ternyata pria juga ngidam”. Abis itu gw paranoid abis, gimana enggak… gw ngidam?? oh God, please.. mungkin itu juga bisa jadi penjelasan perilaku aneh gw selama kehamilan istri gw. Sejak ketahuan hamil 6 bulan yang lalu istri gw enggak ngidam, dia gak suka muntah2 di pagi hari, dia juga gak suka minta dipanjatin pohon mangga, makannya juga lancar notabene dia gak minta yang aneh-aneh selain minta naik mercy tiap hari ama makan lobster panggang ala thailand. Tapi sungguh 6 bulan kemarin dia cukup tidak merepotkan. Malah kayaknya menguntungkan gw, ada satu kegiatan yang dilakukan berulang2 yaitu meluk gw dengan gemes, bisa terkategorikan ngidam gak yah? soalnya ngidam : kegiatan aneh yang dilakukan berulang-ulang selama masa kehamilan (menurut bahasa gw).
Hmm, kalo istri gw gak ngidam trus siapa dong yang ngidam? gw? oh no… Tapi iya juga loh, gw ngidam tu ada benernya.. perilaku gw aneh, tapi tidak dilakukan berulang-ulang. Seperti suatu saat, gw pernah seharian makan terus, ngemil, makan, ngemil lagi. Istri gw ampe heran, trus dia bilang “mas, sebenernya yang hamil itu siapa sih?” gw cuma jawab dengan senyum *gw laper, sayang…* Pernah suatu ketika gw pengen banget makan gery chocolatos… akhirnya aku nyari sendiri yaiyalah, masa nyuruh istri gw ke swalayan, mirip kayak orang ngidam.
Usut punya usut, ternyata gw pernah punya perjanjian ma istri. Sebelum kehamilan kami mengucapkan janji terlarang kalo nanti istri gw hamil gw yang harus gantiin dia ngidam. wauw… Dulu sih cuma becandaan, lagian gw gak percaya ma myth kayak gitu… tapi kalo sekarang kejadian, gw yang ngidam mungkin juga cuma kebetulan atau ada penjelasan ilmiahnya, ada yang bilang itu cauvade syndrom. lebih jelasnya bisa dibaca di artikel kapanlagi.com http://www.kapanlagi.com/a/0000004312.html
yah begitulah.. yang jelas gw tetep seneng dan deg-degan menunggu kelahiran anak gw.. ternyata cewek.. sodara-sodara. gw bakal jadi ayah… amien. doakan semua yah…. biar lancar persalinannya, biar anak gw sehat, sempurna -gak kurang suatu apapun, biar istri gw sehat, biar gw sehat jangan2 gw pingsan pas lihat persalinan.
fur: my wife, keep on faith.. youre the sexiest mom in the world..

