Pemuda Harapan Bangsa

Desember 3, 2009

Ada di tangan siapa nasib bangsa ini nantinya? Tentunya pertanyaan klasik tersebut biasa kita jawab dengan sebuah kata “pemuda”. Akan tetapi apakah benar, pemuda-pemudi kita telah dapat mengemban amanat pertanyaan tersebut? perlu kita cermati bagaimana kondisi pemuda saat ini.

Realitas yang kita hadapi saat ini pemuda-pemudi kita disibukkan dengan hal-hal yang tidak ada hubungan langsung dengan peningkatan sumber daya manusia. Banyak pemuda tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi sedang iklim ketenagakerjaan menghendaki kompetensi yang tinggi. Hal tersebut diperparah dengan jumlah pelajar putus sekolah, nah hal-hal seperti ini yang membuat perasaan khawatir dan was-was akan nasib bangsa kita nantinya.

Belum lagi ditambah industri kreatif di Indonesia tampaknya masih cenderung berkiblat ke dunia hiburan sehingga pemuda-pemudi berbondong-bondong ingin menjadi artis. Suatu hal yang tidak banyak sumbangsihnya dalam pembangunan bangsa, kita memerlukan lebih banyak ilmuwan, akuntan, insinyur, dokter, wirausahawan, pilot, dosen dan ahli dalam bidang strategis lainnya untuk dapat menjawab tantangan internasional tersebut.

Memang tidak dipungkiri pemuda indonesia bahkan remajanya banyak berprestasi di dunia internasional, seperti tim olimpiade binaan prof.johanes surya, tim robot mahasiswa indonesia yang menang lomba robot internasional dan beberapa lagi lainnya. tapi hal tersebut seakan-akan termarginalkan melihat banyaknya kawula muda kita berajojing ria dalam televisi dan dunia nyata.

Work hard, play hard? mungkin sah saja, tapi work hard, play harder seakan-akan tidak sesuai dengan kompetisi masyarakat dunia. Kita pernah punya pemuda-pemuda seperti pemuda sukarno, pemuda hatta, pemuda suprijadi, pemuda soedirman, pemuda ahmad wahab, pemuda hok gie hingga pemuda munir. Bangsa ini menunggu pemuda-pemuda lagi yang berkarakter kuat dan pantang menyerah untuk memberi karya bagi kemajuan bangsa.

Kita telah diakui maju secara budaya, sekarang saatnya ekonomi, militer dan sumber daya manusia menyusul. Pemuda Indonesia…. Merdeka!

Melihat perkembangan kasus ini saya jadi tertarik untuk mencari dan membaca berita selengkapnya mulai dari asal muasal kasus ini. Mulai dari bagaimana Ibu Prita mengungkapkan kekesalannya atas ketidakbecusan RS bertaraf internasional dalam merawat (melayani) pasiennya sampai ke tuntutan yang dilayangkan RS Omni atas pencemaran nama baik dan fitnah yang dituduhkan pada ibu prita. Dengan asumsi kasus ini seperti sebagaimana ditutrkan ibu Prita dalam emailnya saya pribadi berpendapat adanya salah diagnosa yang berujung malpraktek pada kondisi ibu Prita pada saat itu.
hal ini mengingatkan saya pada J-Dorama, drama jepang yang berjudul “taiyo wa shizumanai” atau terjemahan inggrisnya “sunshine forever” atau “sun will never set”. Dalam dorama ini dikisahkan bahwa ibu sang tokoh utama meninggal di rumah sakit setelah beberap jam dilarikan kesana akibat sakit pada perutnya. Diagnosa dokter pada waktu itu adalah korban meninggal karena kelelahan. Adapun tokoh utama disini tidak mempercayai keterangan dari rumah sakit tersebut karena dalam proses krematorium ibunya ditemukan pisau bedah yang kemungkinan sebelumnya berada pada perut sang ibu. Hal ini yang memberanikan anak yang duduk di sekolah menengah atas itu melakukan tuntutan hukum kepada pihak RS atas kematian ibunya.
Ternyata usut punya usut, pihak RS melakukan kesalahan diagnosa, yaitu salah membaca rekam medik pasien. Ibu tersebut yang seharusnya cuma sakit maag. Akan tetapi rekam mediknya tertukar dengan pasien lain yang ternyata didiagnosa menderita usus buntu akut. Karena dalam proses operasi dokter tidak menemukan penyakit pada usus buntunya. Akhirnya tim dokter tersebut panik dan segera menutup jahitan di perut sang ibu dengan meninggalkan pisau bedah disana.
Kasus ini di peradilan akhirnya dimenangkan oleh sang anak, dan pihak RS mengakui bahwa mereka melakukan kesalahan diagnosa. Akan tetapi pihak RS tidak menuntut balik si pelapor, nah disini bedanya.
Semoga nanti kasus ini dapat diselesaikan dengan cara baik, dan happy ending untuk bu prita sekeluarga. Amiin

buavita

Salam super,
Blog ini ditulis di sela-sela kejenuhan persiapan belajar untuk ujian akhir semester tujuh ini… (belom belajar aja dah jenuh, hahaha)
Suatu ketika saya membeli snack ke mini market di sebelah rumah. Sesaat pandangan saya tertuju pada minuman sari buah berlabel buavita, label yang baru-baru ini menjadi perbincangan karena diakuisisi indofood dari ultra jaya,  menggelitik saya untuk berpikir lebih lanjut.. Ada sesuatu yang aneh…
1. Untuk kemasan mini 250ml dihargai Rp3.600
2. Sedangkan kemasan family pack berisi 1000ml diberi harga Rp18.500
hehehe… Kira-kira apa yang membuat perbedaan harga tersebut begitu mencolok yah?
Rp3.600 x 4 = Rp14.400
18.500-14.400=4.100
Jadi kalo beli ukuran mini pack 250 ml dengan harga family pack bisa dapat 5 buah which is 1250 ml. Masih ada kembalian lagi 500 rupiah….

Kuliah lagi di Jakarta

Februari 3, 2009

Sejak 19 januari lalu saya masuk kuliah lagi di kampus STAN bintaro, sebenernya sih alamat lamanya adalah jalan ceger raya jurangmangu, pd aren tangerang. Akan tetapi mungkin agar keliatan lebih bonafit dan mudah aksesnya akhirnya jalan masuknya dipindahkan ke Bintaro yang notabene adalah kompleks perumahan elite. Jika anda berkunjung ke kampus STAN melalui jalan ceger, maka akan anda temui gedung P yang merupakan sekretariat menghadap ke anda, lengkap dengan taman dan tiang benderanya juga. Hal ini bukan isapan jempol belaka, dosen sendiri yang menceritakannya di depan kelas, dia menceritakan bagaimana susahnya membujuk pengembang perumahan untuk dapat mengijinkan kampus memindahkan alamatnya ke bintaro.
Kesan pertama saya masuk kampus ini tidak ubahnya dengan bertemu teman lama, ada perasaan senang, malu-malu, kaget, bangga (karena sudah tidak ada lagi kambing dan kerbau yang berkeliaran di sekitar kampus, hahaha) dan berbagai macam perasaan lainnya. Well, setidaknya kampus ini telah berjasa mendidik ahli-ahli dalam bidang keuangan yang sekarang diperkerjakan di departemen keuangan dan instansi terkait lainnya. Saya tidak bilang termasuk saya lho, jangan salah sangka, hehehe. Akan tetapi ternyata menikmati nostalgia tidak ada salahnya, seperti tertegunnya saya melihat tempat dimana dulu saya dan teman-teman seangkatan beraktivitas ternyata masih ada dan digunakan pula oleh adik kelas kami sekarang. Sungguh mengingat kenangan di masa lalu, yang walau baru 4 tahun berlalu akan tetapi sudah terasa lama, menyenangkan.
Sesuatu yang membuat saya agak kaget dan sekaligus kesal adalah melihat kenyataan bahwa pendidikan bukan merupakan prioritas utama bagi pengambil keputusan di kampus ini. Hal ini terbukti dari sarana belajar mengajar yang kami pakai masih kurang layak. Ruang kelas yang nyaman, dan meja serta kursi belajar yang bersih serta terlihat terawat tidak kami temui. Sebelumnya saya berpikir bahwa kesabaran kami sewaktu kuliah D3 telah menemui hasilnya, akan tetapi sepertinnya kesabaran itu harus berlanjut saat ini. Kampus STAN tidak seperti kampus lainnya yang notabene kampus ini berusaha menyenangkan mahasiswanya dengan meminjami buku dan literatur yang digunakan dalam proses belajar mengajar di kampus. Akan tetapi kemampuan literatur tersebut untuk menyesuaikan dengan jaman tidak diupdate. Sehingga banyak diantara literatur yang penting tersebut ditemukan dalam kondisi yang tidak terawat dan terlambat dua edisi dari edisi yang terbaru.
Bukan hanya itu, salah seorang dosen bercerita bahwa sekarang ini memang sudah ada perbaikan di kampus ini. salah satunya adalah dosen tersebut dihubungi untuk mengajar hari pertama pada 3 hari sebelum kuliah pertama dimulai. Dahulu biasanya dosen tahu dari mahasiswanya sendiri bahwa dia mendapat kesempatan mengajar di kampus. Jadi otomatis hari pertama masuk kuliah dosen tidak dapat mengajar. Dan hal ini membuang sekali kesempatan untuk mendapatkan pengajaran. Sungguh terlalu.
Cerita tentang perkuliahan bukan hanya seputar kampus akan tetapi juga berkenaan dengan cerita seputar bagaimana mencapai kampus. Jika kuliah dimulai jam 8, maka saya yang notabene sekarang berdomisili di daerah Utan Kayu harus berangkat jam 6.00 paling telat jam 6.30 agar tidak terlambat memasuki kelas. Jam keberangkatan tersebut sudah dihitung dengan beban kontinjensi yang akan terjadi di jalan seperti, adanya tuntutan ganti rugi dari pengguna jalan yang saya tabrak atau terjebak oleh kemacetan. Kenapa kok seakan-akan susah ya, padahal mungkin kalian yang telah lama tinggal di Jakarta sudah menganggap hal tersebut biasa. Well, perlu saya ingatkan kembali bahwasanya saya adalah termasuk gelombang urbanisasi, pindahnya orang dari desa ke kota. Jadi maklum sajalah kalo terjadi sedikit culture shock. Jalan yang biasanya lengang di tempat tinggal saya dulu berubah menjadi parkiran kendaraan yang banyak asapnya. Kenapa saya sebut tempat parker? Karena begitulah keadaannya jika macet. Hehehehe.
Tapi setelah hampir 2 minggu menjalani bolak-balik Utan Kayu – Bintaro, yang sebenarnya hanya berjarak tempuh 25 Km, maka semakin terbiasa pulalah saya untuk menyelami lautan kendaraan di jalan raya Jakarta. Alhasil jika beruntung mungkin waktu tempuh bias diperpendek menjadi 1 jam 10 menit. Well untuk lebih jelasnya mungkin kelak akan saya buatkan tulisan tersendiri tentang jalan raya beserta manner di jalan raya.

Beberapa hari yang lalu saya bersama istri sepulang dari kantor, sekitar jam 5 sore, membeli perlengkapan rumah dan logistik di sebuah supermarket kecil, masih bertempat diseputar kota kendari. Setelah memilih barang yang akan dibeli alhasil saya mengantri untuk membayar di kasir. Karena kelupaan sesuatu maka belanjaan dibawa oleh istri saya dan saya pergi mengambil barang yang tertinggal. kemudian tidak lama setelah saya pergi, ada orang sekonyong-koyong melewati istri saya yang tengah menurunkan belanjaan dan langsung menuju kasir. Istri saya dengan terheran-heran melihat dan memperingatkan orang itu. Akan tetapi entah karena bahasa indonesia yang kami gunakan tidak dimengerti oleh orang tersebut ataukah ada maksud lain yang kami tidak ketahui, dia tetap saja bergeming. Beruntung sang kasir memahami dan mengetahui maksud kami yang memang telah mengantri terlebih dahulu. Dan akhirnya dia lebih memilih untuk melayani kami daripada orang yang menyerobot tersebut.

Hal seperti ini tidak hanya satu dua kali terjadi melainkan hampir setiap kali kami mengantri sesuatu pasti ada kejadian seperti ini. Pelaku dari penyerobotan tersebut bukan hanya satu dua orang, melainkan banyak orang. Saya mengerti akan kondisi darurat, akan tetapi yang saya tidak mengerti adalah komunikasi yang sangat parah di sini. Kalau saja kebutuhan mereka (refer to: si penyerobot) lebih mendesak, maka mungkin saya pribadi dapat mengerti dan mengikhlaskan jatah saya diambil oleh mereka.

Melihat kehidupan kota secara keseluruhan saya jadi menyimpulkan apakah kemampuan untuk tertib antri adalah indikator kemajuan suatu peradaban. Mengapa saya menyimpulkan seperti itu, karena orang maju dan beradab menginginkan suatu kedamaian dan kesejahteraan hidup. Hal tersebut tidak akan pernah tercapai secara adil dan merata jika terjadi banyak konflik. Dan terkadang terus-menerus mengalah juga bukan solusi yang baik dalam pembelajaran untuk mempertahankan hak kita. Jadi kesimpulannya hargai hak orang lain serta komunikasikan pendapat dengan baik, InsyaAllah bangsa ini dapat menuju peradaban yang lebih baik. Amin.

puisi v1 : tegar

Agustus 20, 2008

kita baik-baik saja

betapapun susahnya

kita tetap baik-baik saja

betapapun pedihnya

kita tetap baik-baik saja

betapapun gembiranya

kita tetap baik-baik saja

betapapun datarnya

kita tetap baik-baik saja

karena kita yang telah dipilih

menghuni dibawah atap istana

meminum sungai madu

menyelami lautan susu

menyesali kesempurnaan diri

mencandai kumpulan bidadari

selama kita lurus

kita tetap baik-baik saja

Kendari nomor satu

Juli 3, 2008

Kemarin pagi sebelum berangkat kantor, saya sempat melihat berita di metro TV tentang kota tempat tinggal saya sekarang. Setelah dijejali berita kerusuhan anta mahasiswa di Kampus Universitas Haluoleo, maka ada kabar baru lagi bahwa kendari didaulat sebagai peringkat satu diantara kota di seluruh indonesia. Tapi selanjutnya membuat saya mengurungkan niat untuk bersuka cita, ternyata peringkat satu itu didapatkan dari kenaikan inflasi yang mencapai 6,49 persen. Dan hal ini konon tertinggi di indonesia untuk bulan Juni 2008 (Baca beritanya).

Yah seperti tulisan saya sebelumnya, banyak yang menjadikan alasan mengapa bisa terjadi seperti ini. Alasan yang terkait jalur distribusi yang memang panjang dan sulit bisa dipahami, akan tetapi banyak alasan-alasan lain yang melatarbelakangi naiknya harga kebutuhan pokok ini. Salah satunya adalah ulah spekulan. Hmm, rupanya banyak yang ingin mengambil keuntungan di air keruh, hal ini terbukti harga barang sudah naik sesaat setelah pemerintah mengumumkan rencana kenaikan BBM. Apalagi coba jika bukan ulah spekulan. entah itu spekulan harga kebutuhan, distributor, maupun spekulan-spekulan yang lain.

Seperti pada saat ini BBM langka, sudah hampir seminggu lebih antrian di SPBU tidak putus-putus. Bahkan suatu ketika antrian tersebut mencapai hitungan Km dengan 2 lajur, bayangkan! Ironisnya ketika saya mengobrol bisa dengan seorang bapak-bapak sebut saja Mawar (bukan nama sebenarnya). Beliau tinggal tidak jauh dari SPBU, beliau mengaku punya stok premium lebih dari 1000 liter. Wow! Ketika saya sindir bahwa dia termasuk ilegal menimbun BBM. Dia bilang ini tidak bermotif mencari keuntungan akan tetapi jaga2 jika memang BBM langka, dia masih bisa menggunakan kendaraannya tanpa takut kehabisan. Di akhir obrolan kita, dia bilang percuma mas kalo nimbun, keuntungan yang didapat nantinya akan tidak sebanding dengan tingkat inflasi. Loh ni bapak-bapak penimbun BBM, ahli ekonomi atau peramal? hal ini yang berkecamuk di pikiran saya sepeninggal bapak itu. Ataukah dia george soros yang menyamar? Wallahua’lam bishowab.

Support B.L.T v2.0

Juli 1, 2008

Perubahan paradigma adalah masalah merubah cara pandang kita tentang sesuatu. Pernahkah kita melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda? Mungkin dengan cara seperti itu maka akan dapat kita temui sesuatu yang mengejutkan. Seorang penjahat mungkin mengira polisi itu adalah orang yang menakutkan dan harus dihindari jika dia tidak mau tertangkap. Dan jika tertangkap mungkin resikonya akan panjang, bisa dipenjara maupun digebuki dulu baru dipenjara *oopps!*. Namun jika kita melihat dari sudut pandang masyarakat luas, polisi bak seorang pahlawan, kinerjanya yang baik membuat masyarakat bisa tidur dengan tenang tanpa kuatir terjadi sesuatu dengan diri mereka maupun harta benda mereka.

Demikian juga kita dalam menanggapi program pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) kita sering menganggap BLT adalah konsekuensi imbal balik pemerintah kepada rakyatnya, karena seakan-akan pemerintah telah bersalah menaikkan harga BBM dengan mencabut subsidi untuk itu. Jika kita berpikir seperti itu maka pasti kita akan dengan mudahnya berbicara kesalahan program tersebut dan efeknya berujung kepada peniadaan program tersebut. Hal yang seperti ini yang saya rasa tidak begitu tepat. Hal seperti ini cenderung destruktif.

Bagaimana jika kita mengubah sudut pandang kita dengan mengganggap bahwa program BLT adalah program yang seharusnya pemerintah adakan dalam membantu fakir miskin yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Saya jadi teringat kisah Umar bin Khattab yang memikul sendiri sekarung gandum untuk diberikan pada warganya yang kelaparan. Begitulah kira-kira maksud dari pemerintah saat ini.

Banyaknya pengangguran dan keluarga miskin yang kelaparan membuat pemerintah harus bertanggungjawab secara langsung kepada rakyatnya. Tanggung jawab pemerintah itu berupa program dan bantuan yang disalurkan kepada masyarakatnya. Salah satu program tersebut yang diharapkan dapat dinikmati secara langsung adalah Bantuan Langsung Tunai.

Jadi jika kita mengatakan program ini tidak berhasil, maka harus dihapuskan. dan alihkan saja kembali pada subsidi BBM, maka itu tidak menyelesaikan masalah. Masyarakat yang dahulu kekurangan dan tidak bisa makan tetap tidak mampu untuk membeli bahan makanan. Subsidi BBM adalah keadilan secara komutatif (glossary) bahkan mungkin juga tidak adil karena konsumen terbanyak dari BBM yaitu masyarakat mampu dan industri. Masyarakat tidak mampu hanya terasa saat ada kenaikan harga karena adanya kenaikan ongkos transportasi.

Tapi jika sekali lagi hal ini tidak diikuti dengan campur tangan spekulan di segala bidang maka tidak akan jauh terasa efek dari kenaikan harga tersebut. Contoh saja harga Tempe naik dari harga Rp1500 menjadi Rp2500 per-buahnya, hal ini merupakan sesuatu yang lucu menurut saya. Karena jika dihitung ongkos produksi dan ongkos angkut, seharusnya kenaikan harga per-unitnya tidak sebesar itu. Katakanlah untuk memproduksi 1 buah tempe ongkos per unitnya Rp1000, maka kenaikan BBM yang 30% hanya mengakibatkan ongkos angkut naik dari Rp2000/sekali angkut menjadi Rp3000/sekali angkut, dan jika katakanlah sehari bisa mengangkut 100 buah tempe maka kenaikan harga tersebut hanya Rp10/tempe. Mungkin anda bertanya, gak cuma ongkos angkut yang naik melainkan harga kedelai, ragi dan bahan baku yang lain. Hal ini masuk akal, tapi jika kita hitung seperti tadi maka yang terjadi adalah kenaikan tersebut adalah kecil per unitnya. Nah disini spekulan yang bermain, menaikkan harga bahan dengan harapan keuntungan yang akan dia peroleh akan berlipat dari harga normal. Banyaknya tangan mengakibatkan juga masing masing tangan mengambil keuntungan yang tidak sesuai dengan prosentase kenaikannya. Hal ini yang membuat jatuhnya ke konsumen mahal. Dan penjual tidak dapat memilih konsumen, yang miskin maupun yang kaya diberi harga yang sama. Nah lagi-lagi keadilan komutatif!

Nah dengan adanya keadilan distributif yang diprogramkan pemerintah ini diharapkan masyarakat miskin dapat menikmati langsung bantuan dari pemerintah itu. Secara teori harusnya banyak masyarakat yang terbantu dengan hal ini.  indonesia  on the move

Bangsa yang rewel!

Juni 24, 2008

Jepang setengah abad yang lalu memulai dari nol, umurnya hampir sama dengan kemerdekaan negara kita ini. Tapi jika dilihat dari pertumbuhan baik ekonomi maupun SDMnya, kita begitu jauh tertinggal. Malaysia 20 tahun yang lalu belajar dari kita, akan tetapi sekarang kemajuannya jauh meninggalkan “guru”nya itu… Kenapa bangsa kita gak maju-maju? Menurut pendapat saya pribadi masalahnya ada pada mentalitas bangsa ini yang REWEL!! Coba kita tidak rewel untuk minta disubsidi, mungkin pemerintah bisa lebih leluasa untuk bergerak mensejahterakan rakyatnya dan iklim investasi akan sedikit demi sedikit membaik, karena sarana dan prasarana publik tergarap dengan baik. Coba kita gak rewel minta naikin UMR maka mungkin lebih banyak investor yang masuk dan itu akan membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat yang lain. Coba kita tidak rewel untuk mengemis minta hutang luar negeri, jadinya mungkin kita tidak terjerat seperti sekarang. Coba jika mahasiswa tidak ikutan rewel untuk demo nyuruh pemerintah turun, mungkin dia punya lebih banyak waktu untuk belajar dan berkarya demi kemajuan bangsa ini. Coba kita gak bergaya hidup mewah… pasti banyak uang yang dapat ditabung dan di amalkan untuk kepentingan orang banyak. Tapi itu semua adalah penyesalan, tanpa disertai dengan kemauan keras dan perbuatan sama saja nothing. Jadi mari kita belajar dan berkarya dengan apa yang kita bisa. Menyumbang sedikit untuk kemajuan diri kita sama saja dengan membangun SDM bangsa. SEMANGAT!!

Apa sih fungsi blog untuk kita? ada yang menganggap sebagai media untuk curhat dan share ama temen lewat komen, ada yang untuk menambah popularitas diri, ada yang berfungsi sebagai jumpa fans (yang ini khusus seleb blog). Yang jelas banyak diantara kita merasa bahwa blog ini adalah bagian yang tak terpisahkan bagi dirinya. Ada yang sampai bunuh diri gara-gara blognya dihina oleh temannya, baca beritanya disini
Pesan untuk pembaca blog ini, jangan sampai anda menghina blog orang lain. Karena bisa berujung pada kematian. Hiii serem…