My Sweet Nabila, finally…

Standar

my sweetie
Hari Jumat tanggal 7 Maret 2008 mungkin adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Setelah menunggu 9 bulan 9 hari akhirnya Alhamdulillah anak yang ditunggu lahir juga. Bayi mungil yang manis itu kami beri nama Nabila yang artinya cerdas. Semoga kelak dia bisa menjadi anak yang cerdas, sholihah serta dapat berguna bagi nusa dan bangsa.

Nabila lahir dengan bobot yang tidak begitu besar 2,9 Kgs, dan panjang lahir 47 Cm. Dengan postur bayi yang seperti itu istri seperti dimudahkan dalam proses persalinan, saya tidak dapat membayangkan kalau ternyata bobotnya lebih besar dari itu. Persalinannya berlangsung normal dan cukup mendebarkan. Saya yang ikut di dalam ruangan persalinan sampai harus berkali-kali menahan nafas ketika istri berusaha keras untuk mengejan. Benar-benar perjuangan yang luar biasa yang dilakukan seorang ibu, kalo udah gini bikin kita nyesel dulu waktu kecil sering nakal dan ngelawan sama ibu. Persalinan berlangsung cukup lama sekitar 50-60 Menit setelah pembukaannya lengkap (pembukaan 10 kata dokter)

Kronologisnya sebagai berikut:

6 Maret 2008, 16:54 – Istri saya sms, “mas cepet pulang dong..perutku mules-mules nih!”. Trus saya bales “ntar ya dek, abis ngeprint ni surat aku segera pulang. jam pulang kantorku jam 17:00.

6 Maret 2008, 17:12 – Sesampainya di rumah, istri sudah tidak sakit lagi. Katanya sakitnya datang-pergi.

6 Maret 2008, 18:30 – Kontraksi semakin cepat, hampir tiap 7 menit sekali terjadi kontraksi. Akhirnya istri telpon Dokter yang merawat selama masa kehamilan. Oleh dokter disarankan pergi ke kliniknya untuk diperiksa keadaan kandungan.

6 Maret 2008, 19:30 – Setelah menunggu kurang lebih 1/2 jam maka istri saya diperiksa juga oleh Dokter, dokter menjelaskan bahwa memang sudah terjadi pembukaan tetapi belum pembukaan 1, jadi masih seujung kuku atau kurang dari 1 Cm. Oleh dokter disarankan istirahat di rumah, sambil nonton tivi atau makan camilan. Dari raut muka istri saya paham jangankan untuk makan camilan, untuk sekedar berbicara dengan saya saja dia hampir tidak sanggup.

6 Maret 2008, 20:47 – Kami sampai dirumah, ternyata istri memilih mengikuti saran dokter dengan menunggu di rumah saja. Akan tetapi istri tidak dapat bertahan lama dengan saran tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa istri ke rumah sakit. Toh sudah pembukaan pikir saya, berarti sudah hampir waktunya.

6 Maret 2008, 20:51 – Saya mencoba menghubungi dua armada taksi yang ada di kota kami tinggal, dan jawabannya sama tidak ada taksi yang available, dikarenakan banyaknya taksi yang tidak mendapatkan BBM pada malam ini. Akhirnya dengan persetujuan istri kami berangkat juga ke Rumah Sakit dengan menggunakan sepeda motor yang sering saya pergunakan ke kantor sehari-hari. Jarak antara rumah dan rumah sakit tidaklah jauh, hanya sekitar 3 Km. Hanya saja karena istri mengeluh sakit maka saya juga tidak berani tancap gas. Perjalanan ke RS memakan waktu hampir 7 menit dengan thimik-thimik.

6 Maret 2008, 21:45 – Sampai di RS, kami diinterview dulu di ruang jaga oleh suster yang ada di sana untuk keperluan administrasi. Dengan tidak sabar karena istri sudah mengeluh kesakitan dan pertanyaannya terlampau berbelit-belit saya minta kepada suster agar istri langsung bisa istirahat di kamar saja. Saya mencoba menelpon taksi kembali untuk menjemput ibu dan adik saya yang datang jauh-jauh dari malang untuk menemani saya dan istri menjalani proses kelahiran, mereka membawakan koper pakaian dan alat alat lainnya. Alhamdulillah sudah ada taksi yang jalan.

6 Maret 2008, 22:17 – Ibu dan Adik saya datang ke RS dengan membawa koper pakaian yang telah dipersiapkan.

6 Maret 2008, 23:00 – Kontraksi sudah beranjak ke tahap yang lebih menyakitkan, wajah istri sudah tampak pucat. setiap 2 menit sekali sakit itu datang, saya hanya bisa menatap simpati dan mengusap-usap kepalanya dengan sedikit berbisik “sabar ya sayang, sebentar lagi kok”. Seperti orang hilang ingatan, hanya kata itu saja yang saya ucapkan berkali-kali setiap istri menggenggam tangan saya erat.

6 Maret 2008, 23:15 – Istri meminta dipanggilkan suster, sudah tidak tahan dia dengan sakitnya. Pembukaan sudah beranjak naik ke tahap II. Tapi belum cukup untuk melahirkan, karena harus pembukaan 10 untuk dapat melahirkan dengan normal.

6 Maret 2008, 23:58 – Suster kembali dipanggil untuk memeriksa kondisi istri dan melalui dia kami tahu bahwa sudah pembukaan IV. Tapi ini belum cukup, kembali istri harus menahan sakitnya kontraksi untuk beberapa saat lagi.

7 Maret 2008, 01:22 – Saya kembali memanggil suster jaga, karena istri sudah kesakitan. Dan suster jaga memeriksa rahim istri, ternyata pembukaan sudah VIII. Suster menyarankan agar istri dirawat di ruang bersalin saja. Akan tetapi istri sudah tidak sanggup lagi berjalan. Saya minta kepada Suster untuk mengusahakan kereta dorong, malah dikasih kursi roda. Akhirnya kami menggunakan kursi roda tersebut untuk membawa istri ke kamar bersalin.

7 Maret 2008, 01:45 – Istri sudah tidak tahan terhadap sakit yang menderanya, saya mencoba untuk memberinya semangat dan dukungan. karena hanya itu yang bisa saya lakukan. Seandainya saja saya bisa menggantikan tempatnya..

7 Maret 2008, 02:03 – Dokter datang setelah dihubungi oleh suster jaga, kemudian persiapan persalinan dimulai. Saya diperbolehkan menemani istri di dalam kamar bersalin sedangkan Ibu dan Adik saya menunggu di luar. Persalinan berjalan menegangkan, karena mungkin energi istri sudah habis sewaktu menahan sakit pada waktu kontraksi jadi sewaktu mengejan dia tidak dapat berbuat maksimal. Saya ikut larut dalam kesakitan istri sambil memegang pundak dan kepalanya saya ikut menahan nafas setiap kali istri mengejan. Dibutuhkan hampir 10 kali mengejan untuk akhirnya dapat melahirkan bayi yang ada dalam kandungannya.

7 Maret 2008, 02:50 – Akhirnya bayi yang ditunggu-tunggu lahir juga, Alhamdulillah istri dapat bersabar dan memutuskan tetap untuk berusaha dan menahan kesakitannya agar persalinan dapat berjalan dengan normal. Bayi yang rencananya kami beri nama Nabila R. Widagdo itu lahir dalam keadaan sehat, tangisannya kencang bukan main. Sembari dokter melakukan jahitan pada istri, bayi dipotong plasentanya untuk kemudian ditaruhkan diatas tubuh ibunya untuk membiarkan bayi mencari sendiri puting ibunya yang disebut inisiasi dini. Saya turut memeriksa kondisi fisik anak kami, lengkap jari tangannya, jari kakinya dan kelaminnya saya pastikan bahwa sesuai prediksi sewaktu USG yaitu perempuan.

7 Maret 2008, 04:50 – Dengan dibantu kursi roda, kembali istri istirahat di kamar. Rupanya sewaktu dijahit lukanya dia agak terkilir di dekat tulang ekor, sehingga untuk dibuat duduk masih agak sakit. sampai tulisan ini dipublish istri saya masih merasakan sakit di bagian tulang ekornya. Sehingga memaksa dia untuk banyak beristirahat di ranjang.

Rasa syukur kami panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan kami kesempatan untuk menimang anak buah hati kami, pelita rumah tangga kami. Semoga kami dapat menjadi orangtua yang baik bagi Nabila, sehingga dapat membimbingnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin

14 thoughts on “My Sweet Nabila, finally…

  1. rwidagdo

    @ sef : hayuk sef cepetan makanya…
    @ adis : gak sopan nih temen sekamar, masuk2 kagak ngasih selamat. yaudah angpaunya aja deh. hehehe

  2. Edooo…!! Kamu sekarang udah jadi Papah..😀
    Waduuh.. perjuanganmu begitu mendebarkan y?
    Tulisanmu juga keren, jadi kayak ngeliat sendiri kejadiannya. Mulai naek motor k RS, Suster2 yang nyebelin (Masak org lg mau lairan for the first time masih direpotin ama administrasi?!), trus yg kursi Roda itu, ya Allah.. uda bukaan VIII juga.. Sapa Susternya Do? Sebutin! Biar.. biar.. biar aq jadiin dia berjenggot!😀
    N finally, pas denger tangisnya si kecil Nabila.. Aq bisa membayangkan gimana perasaanmu.. Pasti pengen meluk, nyium, menimang2… Senengnya..
    Buat Lita: U are tough girl! Kamu sama kerennya sama Mas Edo Lit.. Unforgettable moment yah..? U made it! U did.. congrats!
    Bwt Nabila: Jangan nakal ya.. nurut sama Mama+Papa, smoga mbesok gede kamu bisa membuat orangtuamu bangga, n.. welcome to the world..!!😀

  3. rwidagdo

    @decon: selamat juga ya mas atas kelahiran putrinya, fathimah.

    @jems: coba kamu disana jems.. aku jodohin ma susternya… hahaha

    @lis : Trims ya mbak..

    @dimasu: hilang kontak kelamaan sih kita, oiya zia aja juga baru tau kemarin kok…

  4. rwidagdo

    @hieroyuki: trims bro
    @siskasiska: Sabar sist, pasti Allah memberi yang terbaik, InsyaAllah. Btw makasih ya, kalo boleh kamu aja jadi godmother-nya Nabila?

  5. aang

    edo maap banget lo. baru baca postingan ini. sungguh aku terbawa oleh emosimulewat kata-kata yang kau pilih. duh jadi pengen lihat kalian.
    aku kepengen banget neh nyusul tapi………………………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s