Potongan rambut dan standar waralaba barbershop

Standar

Inter’s Captain

Kemarin mumpung hari minggu, saya pun turut ayah ke kota, naik delman istimewa dan duduk di muka menggunakan kesempatan ini untuk potong rambut. Karena istri yang biasanya turut serta belum recover sepenuhnya dari sakit sejak persalinan, maka saya sendiri berangkat ke barbershop terkenal di kota ini. Barbershop tersebut adalah waralaba terkemuka dari ahli potong rambut terkenal di indonesia. Namanya pun tidak asing di telinga saya, karena seringnya muncul di media cetak maupun elektronik.

Saat sampai ditempat tersebut saya sedikit gembira karena tidak saya temui antrian yang biasanya memenuhi kursi tunggu barbershop tersebut, yang ada hanya beberapa pegawai yang sedang tidak ada klien duduk di ruangan itu. Setelah saya masuk dan mendaftar, oleh kasir merangkap customer service plus front office saya disuruh menunggu di kursi. Tampak saya lihat di dalam barbershop itu hanya satu yang terisi oleh costumer, selebihnya kosong. Tetapi setelah menunggu lebih dari lima menit saya tidak juga dilayani. Pada tahap ini saya masih berdiam diri, sampai akhirnya nama saya dipanggil untuk segera dilayani.

Dalam kasus potong-memotong rambut saya lebih memilih tukang potong rambut pria daripada yang wanita, bukan karena saya rasis terhadap gender tapi karena saya rasa lebih sreg aja. Kali ini saya memilih potongan rambut biasa, dengan poni yang agak panjang dan bagian sisi kepala tipis serta rambut bagian belakang yang tipis. Selanjutnya rambut disisir miring ke kanan. Potongan ini mengingatkan saya pada pemain bola favorit saya Javier Zanetti. Pada tahap ini tidak terlalu bermasalah, walaupun lebih pendek dari yang saya harapkan, tetapi bisa saya maklumi.

Setelah selesai dipotong saya meminta untuk diberi tonik dan dipijat. Akan tetapi pegawai tersebut langsung memberi tonik, tanpa membersihkan sisa-sisa rambut yang selesai dipotong. Pada bagian ini saya protes karena biasanya sebelum diberi tonik dibilas dulu agar bersih. Tapi ini tidak, dan ketika saya minta dibilas dengan entengnya dia mengatakan ”sudah terlanjur mas, harusnya dari tadi.” seakan-akan itu kesalahan saya yang tidak mengingatkannya. Saya tidak ingin berpanjang lebar masalah ini, langsung saja saya menuju kasir untuk membayar, saya kena chargenya tiga item jasa, gunting, cuci rambut plus tonik, padahal saya menolak untuk cuci rambut dengan shampoo karena saya sudah cuci dirumah. Tapi dengan alasan sudah satu paket maka harus dicharge sebesar itu.

Sebetulnya bukan nominal uang yang saya permasalahkan, akan tetapi buruknya pelayanan barbershop waralaba yang telah termahsyur itu yang menjadi ganjalan. Satu prinsip manajemen dia lupakan, bahwa satu pelanggan kecewa akan berdampak promosi negatif tentang perusahaannya. Apakah waralaba itu tidak termasuk maintain quality control produk dari cabang-cabangnya yang berada di daerah? Ataukah ini mutlak kesalahan personal pegawai dari perusahaan waralaba tersebut? Ataukah standar pelayanan waralaba di negara ini belum merata? Yang jelas dalam hal ini konsumen telah dirugikan, dan hal ini akan berpengaruh pada keinginan untuk kembali menggunakan produk jasa dari perusahaan tersebut.

6 thoughts on “Potongan rambut dan standar waralaba barbershop

  1. Betul Do!
    1 pelanggan kecewa, dia akan menginformasikan pada 10 orang. 1 pelanggan puas, dia akan menginformasika pada 5 orang.. Wah.. bener2 harus ‘dibina’ tuh pegawainya.. Iya Do, ‘dibina’.. dibina-sakan. Hahahahaha..

  2. rwidagdo

    @siskasiska: betul sis, aku udah yang terakhir kesana, besok-besok cari salon lain lagi..
    @jams: siap! binasakan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s