Opini Wajar Tanpa Pengecualian

Standar

Kalimat ini sering dipakai auditor untuk memberikan pendapat bahwa laporan keuangan yang mereka audit sudah baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Jika kita telaah lebih lanjut, penggunaan istilah ini adalah sangat filosofis. Kenapa menggunakan kata wajar bukannya benar atau betul?

Wajar adalah sesuatu yang layak atau sesuai dengan keadaannya. Suatu nilai tertinggi yang dapat dicapai dalam karya manusia. Karena menurut saya kebenaran itu adalah mutlak milik Tuhan dan kita hanya bisa mengutip dari ayat-ayat Nya, maka nilai tertinggi yang bisa dicapai dari hasil pemikiran manusia adalah wajar. Penilaian ini adalah kesimpulan obyektif manusia yang lain tentang sesuatu. Jadi yang menilai wajar atau tidaknya kita adalah orang lain.

Seperti kita dalam menilai perbuatan seseorang, semisal A’a Gym memutuskan untuk poligami. Alasan saya menganggap perbuatan yang dilakukan A’a Gym adalah hal yang wajar adalah dalam tataran sosial kita mengetahui bahwa pada jaman kerajaan sebelum kita lahir adalah wajar beristri lebih dari satu jadi budaya kita sudah mengatur yang demikian. Alasan kedua A’a adalah orang kaya yang bisa menghidupi banyak keluarga, jadi secara finansial adalah wajar A’a mempunyai istri dan anak lebih dari satu. Alasan yang lain adalah populasi wanita dan lelaki adalah tidak seimbang, di kampung saya saja populasi lelaki dan wanita sudah 1:3, bayangkan jika satu lelaki hanya menikah dengan 1 wanita, maka akan ada 2/3 wanita yang tidak menikah.

Jika menaati agama dengan baik hal ini akan berakibat kesengsaraan bagi 2/3 dari populasi wanita. Agama saya Islam tidak memperbolehkan seks bebas, dan saya rasa semua agama juga mempunyai ajaran itu. Secara fisik dan psikologis saya kira tidak baik bagi seseorang untuk tidak menikah atau membujang untuk selamanya. Memang hal ini butuh penjelasan lebih lanjut dari pakar yang kompeten.

Sayangnya sekarang ini kita menilai sering berdasarkan perasaan, bukan logika. Cantiknya istri kedua A’a Gym menjadikan kita berpikiran bahwa A’a telah ”tergoda”. Media-media terus memojokkan A’a dengan gosip-gosipnya, padahal apa yang dilakukan A’a tidak sedikitpun melukai mereka. Kita tidak menyoroti apakah A’a sudah bisa berlaku adil, apakah mereka akhirnya bahagia, apakah anak-anak dari istri kedua telah mendapatkan figur ayah yang baik, apakah istri pertama telah bersyukur karena adanya istri kedua meringankan tugasnya.

Kalau kita menilai berdasarkan logika maka akan kita akan dapat memberikan opini kepada A’a bahwa perbuatan yang A’a lakukan adalah wajar tanpa pengecualian. Karena syarat dan ketentuannya telah dia patuhi. Akan tetapi langkah A’a ini tidak dapat serta merta dilakukan oleh semua orang. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipatuhi, dan jika tidak maka opini bisa berupa menjadi wajar dengan pengecualian maupun disclaimer.

Kalo orang lain yang melakukan langkah tersebut mungkin malah akan adverse, atau negative opinion atau dengan kata lain terjadi penyimpangan dalam hal yang material mengenai hal yang disajikan. Karena orang tersebut tidak memenuhi kriteria seperti A’a. Istri mereka pasti akan sangat setuju dengan opini ini, sehingga ini menjauhkan mereka dari perbuatan yang dianjurkan agama. No offense!

Kecap No. 1

Standar

Kita sering mendengar ada ungkapan kecap nomor satu, ungkapan ini adalah untuk menunjukkan promosi kita terhadap sesuatu produk yang kita hasilkan bahwa produk kita adalah yang terbaik diantara produk sejenis yang beredar. Tapi kenapa kecap? Kenapa bukan obat nyamuk nomor satu ataukah spidol nomor satu atau bahkan kancut (pakaian dalam) nomor satu.

Alasan menggunakan produk kecap sebagai tagline adalah pengertian saya bahwa kecap merupakan produk murah meriah, konon kecap tidak ada kadaluarsanya. Jadi kalo memang sudah kadaluarsa di kemasan kecil maka kecap akan dijual sebagai kecap curah. Satu lagi, masalah selera penikmat kecap tersebut. Diferensiasi dari pembeli produk kecap pun banyak jumlahnya, dari yang suka kecap yang kental dan hitam, sampai penyuka kecap murah dan tidak tersohor yang tersedia di warung-warung sebagai teman menikmati soto.

Kata kecap yang dimaksud di tagline tersebut bias juga kata yang berarti ngomong, atau bahasa jawanya ngecap, e-nya dibaca seperti membaca echo bukan seperti e dalam elang. Ngecap juga bisa diartikan mempromosikan sesuatu tapi tanpa dasar yang jelas, pokoknya bagus!

Kecap dengan pelafalan huruf e seperti dalam kata elang juga bisa berarti indra perasa yang ada pada lidah, atau secara singkatnya berarti selera.

Dari pengertian diatas dapat kita pahami dengan adanya multitafsir tentang kecap tersebut membuktikan bahwa ungkapan ini memang tepat digunakan untuk mengandaikan sesuatu yang dipromosikan nomor satu tanpa disertai dengan alasan yang jelas dan data yang shohih.

Hal ini menjadi masalah ketika adanya keinginan dari kita untuk berpindah membeli sesuatu berdasarkan promosi yang jelas-jelas subyektif. Tidak ada promosi yang akan menjelekkan produknya sendiri. Setelah kita membeli barulah kita sadar bahwa produk tersebut tidak senikmat promosinya. Sejenak kita merasa tertipu oleh promosi tersebut.

Jadi jangan terpancing, ikuti selera anda dalam membeli sesuatu dan jangan terpancing promosi dari produsen tersebut, niscaya anda akan selamat. Tidak merasa tertipu maupun dibohongi dengan promosi tersebut. Atau jika bosan dan ingin mencoba, belilah kemasan yang paling kecil sehingga jika anda tidak suka tinggal buang saja, toh tidak mahal. Sekali lagi ini masalah selera.