Derby Della Madonnina (bagian satu)

Standar

milaninter-reuters2851Derby dalam sepakbola dapat diartikan sebagai pertemuan antara dua klub yang berasal dari daerah yang sama. jadi bukannya penyanyi remaja yang temennya sherina ituh. Sedang de la madonina adalah bahasa italia yang kurang lebih berarti madonna kecil atau little madonna, dilambangkan oleh sebuah patung virgin mary yang terdapat di jantung kota Milan.

 

Jadi jika dirangkai kurang lebih berarti pertemuan antara dua klub sepakbola sekota di Milan yang memperebutkan prestise yang terbaik di Milan. Nah julukan ini disematkan pada pertemuan antara Inter Milan dan AC Milan, yang sejak tahun 1908 hanya absen selama 2 tahun karena Milan terdegradasi ke Serie B.

Selama Serie A berlangsung derby antara dua klub ini terselenggara 171 kali dengan 61 kali dimenangkan Internazionale, 58 kali dimenangkan AC Milan dan 52 sisanya adalah draw, untuk lebih lengkapnya baca disini.

Nah di Indonesia laga ini dapat disaksikan nanti malam sekitar pukul 2 malam WIB. Jadi bagi anda yang berniat untuk menonton jangan lupa pasang wekernya. Saya sendiri berniat untuk nonton juga nanti malam, semoga tidak kebablas tidur sampai pagi.

Reportase akan saya ulas di tulisan bagian selanjutnya. Selamat Menonton.

Kuliah lagi di Jakarta

Standar

Sejak 19 januari lalu saya masuk kuliah lagi di kampus STAN bintaro, sebenernya sih alamat lamanya adalah jalan ceger raya jurangmangu, pd aren tangerang. Akan tetapi mungkin agar keliatan lebih bonafit dan mudah aksesnya akhirnya jalan masuknya dipindahkan ke Bintaro yang notabene adalah kompleks perumahan elite. Jika anda berkunjung ke kampus STAN melalui jalan ceger, maka akan anda temui gedung P yang merupakan sekretariat menghadap ke anda, lengkap dengan taman dan tiang benderanya juga. Hal ini bukan isapan jempol belaka, dosen sendiri yang menceritakannya di depan kelas, dia menceritakan bagaimana susahnya membujuk pengembang perumahan untuk dapat mengijinkan kampus memindahkan alamatnya ke bintaro.
Kesan pertama saya masuk kampus ini tidak ubahnya dengan bertemu teman lama, ada perasaan senang, malu-malu, kaget, bangga (karena sudah tidak ada lagi kambing dan kerbau yang berkeliaran di sekitar kampus, hahaha) dan berbagai macam perasaan lainnya. Well, setidaknya kampus ini telah berjasa mendidik ahli-ahli dalam bidang keuangan yang sekarang diperkerjakan di departemen keuangan dan instansi terkait lainnya. Saya tidak bilang termasuk saya lho, jangan salah sangka, hehehe. Akan tetapi ternyata menikmati nostalgia tidak ada salahnya, seperti tertegunnya saya melihat tempat dimana dulu saya dan teman-teman seangkatan beraktivitas ternyata masih ada dan digunakan pula oleh adik kelas kami sekarang. Sungguh mengingat kenangan di masa lalu, yang walau baru 4 tahun berlalu akan tetapi sudah terasa lama, menyenangkan.
Sesuatu yang membuat saya agak kaget dan sekaligus kesal adalah melihat kenyataan bahwa pendidikan bukan merupakan prioritas utama bagi pengambil keputusan di kampus ini. Hal ini terbukti dari sarana belajar mengajar yang kami pakai masih kurang layak. Ruang kelas yang nyaman, dan meja serta kursi belajar yang bersih serta terlihat terawat tidak kami temui. Sebelumnya saya berpikir bahwa kesabaran kami sewaktu kuliah D3 telah menemui hasilnya, akan tetapi sepertinnya kesabaran itu harus berlanjut saat ini. Kampus STAN tidak seperti kampus lainnya yang notabene kampus ini berusaha menyenangkan mahasiswanya dengan meminjami buku dan literatur yang digunakan dalam proses belajar mengajar di kampus. Akan tetapi kemampuan literatur tersebut untuk menyesuaikan dengan jaman tidak diupdate. Sehingga banyak diantara literatur yang penting tersebut ditemukan dalam kondisi yang tidak terawat dan terlambat dua edisi dari edisi yang terbaru.
Bukan hanya itu, salah seorang dosen bercerita bahwa sekarang ini memang sudah ada perbaikan di kampus ini. salah satunya adalah dosen tersebut dihubungi untuk mengajar hari pertama pada 3 hari sebelum kuliah pertama dimulai. Dahulu biasanya dosen tahu dari mahasiswanya sendiri bahwa dia mendapat kesempatan mengajar di kampus. Jadi otomatis hari pertama masuk kuliah dosen tidak dapat mengajar. Dan hal ini membuang sekali kesempatan untuk mendapatkan pengajaran. Sungguh terlalu.
Cerita tentang perkuliahan bukan hanya seputar kampus akan tetapi juga berkenaan dengan cerita seputar bagaimana mencapai kampus. Jika kuliah dimulai jam 8, maka saya yang notabene sekarang berdomisili di daerah Utan Kayu harus berangkat jam 6.00 paling telat jam 6.30 agar tidak terlambat memasuki kelas. Jam keberangkatan tersebut sudah dihitung dengan beban kontinjensi yang akan terjadi di jalan seperti, adanya tuntutan ganti rugi dari pengguna jalan yang saya tabrak atau terjebak oleh kemacetan. Kenapa kok seakan-akan susah ya, padahal mungkin kalian yang telah lama tinggal di Jakarta sudah menganggap hal tersebut biasa. Well, perlu saya ingatkan kembali bahwasanya saya adalah termasuk gelombang urbanisasi, pindahnya orang dari desa ke kota. Jadi maklum sajalah kalo terjadi sedikit culture shock. Jalan yang biasanya lengang di tempat tinggal saya dulu berubah menjadi parkiran kendaraan yang banyak asapnya. Kenapa saya sebut tempat parker? Karena begitulah keadaannya jika macet. Hehehehe.
Tapi setelah hampir 2 minggu menjalani bolak-balik Utan Kayu – Bintaro, yang sebenarnya hanya berjarak tempuh 25 Km, maka semakin terbiasa pulalah saya untuk menyelami lautan kendaraan di jalan raya Jakarta. Alhasil jika beruntung mungkin waktu tempuh bias diperpendek menjadi 1 jam 10 menit. Well untuk lebih jelasnya mungkin kelak akan saya buatkan tulisan tersendiri tentang jalan raya beserta manner di jalan raya.