Belajar Berkata Tidak

Standar

Secangkir kopi luwak yang saya minum pagi ini membuat saya terpikir bahwa terkadang kompromi atau penyesuaian itu dibutuhkan. Rasa kopi yang dalam imajinasi saya didapatkan dari pencampuran bijih kopi pilihan dan enzim-enzim tertentu dalam perut si luwak membuat saya berpikir alangkah pentingnya kompromi. Akan tetapi jika “terkadang” itu sudah lebih intens dari sekedar “biasanya” maka pasti ada efek samping akibat perubahan itu. Banyak efek samping dari kompromi-kompromi atau penyesuaian-penyesuaian yang kita buat, salah satu contoh adalah yang saya tuliskan berikut ini.

Menjadi YES-MAN adalah salah satu sisi buruk dari kompromi, di satu sisi kelihatan keren, powerfull, bisa diandalkan, bisa belajar banyak hal, menjadi orang kepercayaan dan sebagainya, tapi tidak selamanya hal tersebut smooth seperti apa yang kita rencanakan. Pernah ada film tentang YES-MAN ini yang dimainkan oleh Jim Carrey, menceritakan tentang seorang pegawai yang berkarakter NO-MAN yang terbiasa berkata NO pada apapun yang ditawarkan padanya, hidupnya  datar-datar saja sebelum ia mengikuti semacam program pengembangan diri untuk berkata YES! terhadap semua tawaran yang diajukan padanya. Hal ini menjadikan hidupnya lebih berwarna walaupun banyak kesulitan yang harus dia hadapi.

Menjadi YES-MAN di lingkungan yang apatis cukup menantang, bagaimana tidak semua hal dibebankan pada seseorang saja, tanpa kewenangan untuk mendelegasikan tugas, Nice! Sistem yang ada tidak berjalan karena banyak yang apatis, tidak aware dengan tugasnya alhasil seseorang menopang seluruh kegiatan administratif nampaknya mustahil. Oleh karena itu disini harus ada ketegasan baik itu dari pimpinan ataupun si YES-MAN tadi, bisa dengan mengubah paradigma si YES-MAN tadi menjadi YES-NO-MAN. Ingat YES-NO-MAN ini bukan oh-yes-oh-no-man.

Tidak semua tugas yang dibebankan diiyakan, akan tetapi pilih yang paling menantang, paling berbobot, memerlukan keahlian khusus, atau sebagai kunci dari suatu tugas yang besar atau pilih yang paling strategis. Namun tidak selamanya kita bisa memilih tugas oleh karena itu ketika kita dihadapkan pada tugas yang tidak bisa dikerjakan maka belajarlah berkata NO, walau mungkin ada dalam diri kita perasaan bersalah, for greatest goodness of mankind.

(sampai sekarang pun penulis sedang belajar berkata tidak untuk pekerjaan)

One thought on “Belajar Berkata Tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s