Fase yang Terlewatkan

Standar

Hiatus, sudah lebih dari dua tahun blog ini tidak diisi tulisan..
dan selama itu pula banyak hal yang seharusnya bisa diceritakan..
…… Jakarta – Denpasar – Birmingham…. Nabila serta adik kecilnya.. Neandro..

Saat-saat itu berjalan sangat cepat tanpa sempat terekam dalam bentuk tulisan.

Ada suatu kala memang tak ingin banyak orang yang tau, takut menimbulkan omongan yang enggak-enggak..
Ada suatu kala juga rasa ingin berbagi itu muncul dan akhirnya dibagi juga lewat sosial media microblogging @heromorphosis. Tapi gak lengkap kalo belum nulis panjang lebar di blog, lagipula twitter punya keterbatasan database.

Yang paling banyak berperan dalam hiatus ini, ya males itu, apalagi? Tugas yang udah jelas2 deadlinenya aja ditunda-tunda apalagi blog.

Tapi ya sayang juga kalo gak ditulis, paling gak nanti bisa jadi bahan pertimbangan kawan2 lain, bahan diskusi atau bahan masukan buat saya pribadi khususnya. Apalagi pengalaman saya ngurus ini-itu, banyak terbantu dengan blog kawan-kawan yang muncul di hasil pencarian mesin pencari.

Sebetulnya banyak yang udah ditulis, masalah pekerjaan, tugas, perjalanan, pindah tugas, foto-foto.. tapi yaitu gak diunggah-unggah dan dimasukin ke blog, sampai tulisan itu kadaluarsa. Makan nasi kemarin aja udah banyak yang gak doyan.. lha ini udah bertahun-tahun.. semoga gak bikin pembaca keracunan dengan informasi yang gak up to date.

 

Iklan

hollaaa…

Standar

Assalamualaikum..
Pertama-tama saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena dengan sengaja telah menganggurkan blog ini selama setahun lebih! oh wow!
Selanjutnya.. ah kayak pidato.. gak seruuu.. wkwkwk
Lama ga ngeblog jadi garing yah, mau nulis canggung, mau becanda takut gak lucu, karena dalam benak saya setelah setahun kosong maka postingan selanjutnya haruslah istimewa.. walhasil ditunda terus lah ngeblognya, padahal sungguh kebiasaan ngeblog berarti positif bagi saya. At least ada sesuatu yang benar2 dipikirkan dan dicermati, ngeblog gak boleh asal kayak gini dong karena yang baca ribuan bahkan jutaan blogger.. kan malu kalo salah.. hahahaha *pede mampus*
Btw, next post mungkin dah bisa dibuat diskusi, post kali ini masih perkenalan.
Akhir kata.. Wassalamualaikum..

Pemuda Harapan Bangsa

Standar

Ada di tangan siapa nasib bangsa ini nantinya? Tentunya pertanyaan klasik tersebut biasa kita jawab dengan sebuah kata “pemuda”. Akan tetapi apakah benar, pemuda-pemudi kita telah dapat mengemban amanat pertanyaan tersebut? perlu kita cermati bagaimana kondisi pemuda saat ini.

Realitas yang kita hadapi saat ini pemuda-pemudi kita disibukkan dengan hal-hal yang tidak ada hubungan langsung dengan peningkatan sumber daya manusia. Banyak pemuda tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi sedang iklim ketenagakerjaan menghendaki kompetensi yang tinggi. Hal tersebut diperparah dengan jumlah pelajar putus sekolah, nah hal-hal seperti ini yang membuat perasaan khawatir dan was-was akan nasib bangsa kita nantinya.

Belum lagi ditambah industri kreatif di Indonesia tampaknya masih cenderung berkiblat ke dunia hiburan sehingga pemuda-pemudi berbondong-bondong ingin menjadi artis. Suatu hal yang tidak banyak sumbangsihnya dalam pembangunan bangsa, kita memerlukan lebih banyak ilmuwan, akuntan, insinyur, dokter, wirausahawan, pilot, dosen dan ahli dalam bidang strategis lainnya untuk dapat menjawab tantangan internasional tersebut.

Memang tidak dipungkiri pemuda indonesia bahkan remajanya banyak berprestasi di dunia internasional, seperti tim olimpiade binaan prof.johanes surya, tim robot mahasiswa indonesia yang menang lomba robot internasional dan beberapa lagi lainnya. tapi hal tersebut seakan-akan termarginalkan melihat banyaknya kawula muda kita berajojing ria dalam televisi dan dunia nyata.

Work hard, play hard? mungkin sah saja, tapi work hard, play harder seakan-akan tidak sesuai dengan kompetisi masyarakat dunia. Kita pernah punya pemuda-pemuda seperti pemuda sukarno, pemuda hatta, pemuda suprijadi, pemuda soedirman, pemuda ahmad wahab, pemuda hok gie hingga pemuda munir. Bangsa ini menunggu pemuda-pemuda lagi yang berkarakter kuat dan pantang menyerah untuk memberi karya bagi kemajuan bangsa.

Kita telah diakui maju secara budaya, sekarang saatnya ekonomi, militer dan sumber daya manusia menyusul. Pemuda Indonesia…. Merdeka!

Kasus Ibu Prita dan J-Dorama

Standar

Melihat perkembangan kasus ini saya jadi tertarik untuk mencari dan membaca berita selengkapnya mulai dari asal muasal kasus ini. Mulai dari bagaimana Ibu Prita mengungkapkan kekesalannya atas ketidakbecusan RS bertaraf internasional dalam merawat (melayani) pasiennya sampai ke tuntutan yang dilayangkan RS Omni atas pencemaran nama baik dan fitnah yang dituduhkan pada ibu prita. Dengan asumsi kasus ini seperti sebagaimana ditutrkan ibu Prita dalam emailnya saya pribadi berpendapat adanya salah diagnosa yang berujung malpraktek pada kondisi ibu Prita pada saat itu.
hal ini mengingatkan saya pada J-Dorama, drama jepang yang berjudul “taiyo wa shizumanai” atau terjemahan inggrisnya “sunshine forever” atau “sun will never set”. Dalam dorama ini dikisahkan bahwa ibu sang tokoh utama meninggal di rumah sakit setelah beberap jam dilarikan kesana akibat sakit pada perutnya. Diagnosa dokter pada waktu itu adalah korban meninggal karena kelelahan. Adapun tokoh utama disini tidak mempercayai keterangan dari rumah sakit tersebut karena dalam proses krematorium ibunya ditemukan pisau bedah yang kemungkinan sebelumnya berada pada perut sang ibu. Hal ini yang memberanikan anak yang duduk di sekolah menengah atas itu melakukan tuntutan hukum kepada pihak RS atas kematian ibunya.
Ternyata usut punya usut, pihak RS melakukan kesalahan diagnosa, yaitu salah membaca rekam medik pasien. Ibu tersebut yang seharusnya cuma sakit maag. Akan tetapi rekam mediknya tertukar dengan pasien lain yang ternyata didiagnosa menderita usus buntu akut. Karena dalam proses operasi dokter tidak menemukan penyakit pada usus buntunya. Akhirnya tim dokter tersebut panik dan segera menutup jahitan di perut sang ibu dengan meninggalkan pisau bedah disana.
Kasus ini di peradilan akhirnya dimenangkan oleh sang anak, dan pihak RS mengakui bahwa mereka melakukan kesalahan diagnosa. Akan tetapi pihak RS tidak menuntut balik si pelapor, nah disini bedanya.
Semoga nanti kasus ini dapat diselesaikan dengan cara baik, dan happy ending untuk bu prita sekeluarga. Amiin

Pricing yang aneh dari Buavita

Standar

buavita

Salam super,
Blog ini ditulis di sela-sela kejenuhan persiapan belajar untuk ujian akhir semester tujuh ini… (belom belajar aja dah jenuh, hahaha)
Suatu ketika saya membeli snack ke mini market di sebelah rumah. Sesaat pandangan saya tertuju pada minuman sari buah berlabel buavita, label yang baru-baru ini menjadi perbincangan karena diakuisisi indofood dari ultra jaya,  menggelitik saya untuk berpikir lebih lanjut.. Ada sesuatu yang aneh…
1. Untuk kemasan mini 250ml dihargai Rp3.600
2. Sedangkan kemasan family pack berisi 1000ml diberi harga Rp18.500
hehehe… Kira-kira apa yang membuat perbedaan harga tersebut begitu mencolok yah?
Rp3.600 x 4 = Rp14.400
18.500-14.400=4.100
Jadi kalo beli ukuran mini pack 250 ml dengan harga family pack bisa dapat 5 buah which is 1250 ml. Masih ada kembalian lagi 500 rupiah….

Kuliah lagi di Jakarta

Standar

Sejak 19 januari lalu saya masuk kuliah lagi di kampus STAN bintaro, sebenernya sih alamat lamanya adalah jalan ceger raya jurangmangu, pd aren tangerang. Akan tetapi mungkin agar keliatan lebih bonafit dan mudah aksesnya akhirnya jalan masuknya dipindahkan ke Bintaro yang notabene adalah kompleks perumahan elite. Jika anda berkunjung ke kampus STAN melalui jalan ceger, maka akan anda temui gedung P yang merupakan sekretariat menghadap ke anda, lengkap dengan taman dan tiang benderanya juga. Hal ini bukan isapan jempol belaka, dosen sendiri yang menceritakannya di depan kelas, dia menceritakan bagaimana susahnya membujuk pengembang perumahan untuk dapat mengijinkan kampus memindahkan alamatnya ke bintaro.
Kesan pertama saya masuk kampus ini tidak ubahnya dengan bertemu teman lama, ada perasaan senang, malu-malu, kaget, bangga (karena sudah tidak ada lagi kambing dan kerbau yang berkeliaran di sekitar kampus, hahaha) dan berbagai macam perasaan lainnya. Well, setidaknya kampus ini telah berjasa mendidik ahli-ahli dalam bidang keuangan yang sekarang diperkerjakan di departemen keuangan dan instansi terkait lainnya. Saya tidak bilang termasuk saya lho, jangan salah sangka, hehehe. Akan tetapi ternyata menikmati nostalgia tidak ada salahnya, seperti tertegunnya saya melihat tempat dimana dulu saya dan teman-teman seangkatan beraktivitas ternyata masih ada dan digunakan pula oleh adik kelas kami sekarang. Sungguh mengingat kenangan di masa lalu, yang walau baru 4 tahun berlalu akan tetapi sudah terasa lama, menyenangkan.
Sesuatu yang membuat saya agak kaget dan sekaligus kesal adalah melihat kenyataan bahwa pendidikan bukan merupakan prioritas utama bagi pengambil keputusan di kampus ini. Hal ini terbukti dari sarana belajar mengajar yang kami pakai masih kurang layak. Ruang kelas yang nyaman, dan meja serta kursi belajar yang bersih serta terlihat terawat tidak kami temui. Sebelumnya saya berpikir bahwa kesabaran kami sewaktu kuliah D3 telah menemui hasilnya, akan tetapi sepertinnya kesabaran itu harus berlanjut saat ini. Kampus STAN tidak seperti kampus lainnya yang notabene kampus ini berusaha menyenangkan mahasiswanya dengan meminjami buku dan literatur yang digunakan dalam proses belajar mengajar di kampus. Akan tetapi kemampuan literatur tersebut untuk menyesuaikan dengan jaman tidak diupdate. Sehingga banyak diantara literatur yang penting tersebut ditemukan dalam kondisi yang tidak terawat dan terlambat dua edisi dari edisi yang terbaru.
Bukan hanya itu, salah seorang dosen bercerita bahwa sekarang ini memang sudah ada perbaikan di kampus ini. salah satunya adalah dosen tersebut dihubungi untuk mengajar hari pertama pada 3 hari sebelum kuliah pertama dimulai. Dahulu biasanya dosen tahu dari mahasiswanya sendiri bahwa dia mendapat kesempatan mengajar di kampus. Jadi otomatis hari pertama masuk kuliah dosen tidak dapat mengajar. Dan hal ini membuang sekali kesempatan untuk mendapatkan pengajaran. Sungguh terlalu.
Cerita tentang perkuliahan bukan hanya seputar kampus akan tetapi juga berkenaan dengan cerita seputar bagaimana mencapai kampus. Jika kuliah dimulai jam 8, maka saya yang notabene sekarang berdomisili di daerah Utan Kayu harus berangkat jam 6.00 paling telat jam 6.30 agar tidak terlambat memasuki kelas. Jam keberangkatan tersebut sudah dihitung dengan beban kontinjensi yang akan terjadi di jalan seperti, adanya tuntutan ganti rugi dari pengguna jalan yang saya tabrak atau terjebak oleh kemacetan. Kenapa kok seakan-akan susah ya, padahal mungkin kalian yang telah lama tinggal di Jakarta sudah menganggap hal tersebut biasa. Well, perlu saya ingatkan kembali bahwasanya saya adalah termasuk gelombang urbanisasi, pindahnya orang dari desa ke kota. Jadi maklum sajalah kalo terjadi sedikit culture shock. Jalan yang biasanya lengang di tempat tinggal saya dulu berubah menjadi parkiran kendaraan yang banyak asapnya. Kenapa saya sebut tempat parker? Karena begitulah keadaannya jika macet. Hehehehe.
Tapi setelah hampir 2 minggu menjalani bolak-balik Utan Kayu – Bintaro, yang sebenarnya hanya berjarak tempuh 25 Km, maka semakin terbiasa pulalah saya untuk menyelami lautan kendaraan di jalan raya Jakarta. Alhasil jika beruntung mungkin waktu tempuh bias diperpendek menjadi 1 jam 10 menit. Well untuk lebih jelasnya mungkin kelak akan saya buatkan tulisan tersendiri tentang jalan raya beserta manner di jalan raya.

Antri, indikator kemajuan peradaban manusia

Standar

Beberapa hari yang lalu saya bersama istri sepulang dari kantor, sekitar jam 5 sore, membeli perlengkapan rumah dan logistik di sebuah supermarket kecil, masih bertempat diseputar kota kendari. Setelah memilih barang yang akan dibeli alhasil saya mengantri untuk membayar di kasir. Karena kelupaan sesuatu maka belanjaan dibawa oleh istri saya dan saya pergi mengambil barang yang tertinggal. kemudian tidak lama setelah saya pergi, ada orang sekonyong-koyong melewati istri saya yang tengah menurunkan belanjaan dan langsung menuju kasir. Istri saya dengan terheran-heran melihat dan memperingatkan orang itu. Akan tetapi entah karena bahasa indonesia yang kami gunakan tidak dimengerti oleh orang tersebut ataukah ada maksud lain yang kami tidak ketahui, dia tetap saja bergeming. Beruntung sang kasir memahami dan mengetahui maksud kami yang memang telah mengantri terlebih dahulu. Dan akhirnya dia lebih memilih untuk melayani kami daripada orang yang menyerobot tersebut.

Hal seperti ini tidak hanya satu dua kali terjadi melainkan hampir setiap kali kami mengantri sesuatu pasti ada kejadian seperti ini. Pelaku dari penyerobotan tersebut bukan hanya satu dua orang, melainkan banyak orang. Saya mengerti akan kondisi darurat, akan tetapi yang saya tidak mengerti adalah komunikasi yang sangat parah di sini. Kalau saja kebutuhan mereka (refer to: si penyerobot) lebih mendesak, maka mungkin saya pribadi dapat mengerti dan mengikhlaskan jatah saya diambil oleh mereka.

Melihat kehidupan kota secara keseluruhan saya jadi menyimpulkan apakah kemampuan untuk tertib antri adalah indikator kemajuan suatu peradaban. Mengapa saya menyimpulkan seperti itu, karena orang maju dan beradab menginginkan suatu kedamaian dan kesejahteraan hidup. Hal tersebut tidak akan pernah tercapai secara adil dan merata jika terjadi banyak konflik. Dan terkadang terus-menerus mengalah juga bukan solusi yang baik dalam pembelajaran untuk mempertahankan hak kita. Jadi kesimpulannya hargai hak orang lain serta komunikasikan pendapat dengan baik, InsyaAllah bangsa ini dapat menuju peradaban yang lebih baik. Amin.